Cerita Evi, Pekerja Sosial yang Pernah Ditinju Ibu-ibu

Cerita Evi, Pekerja Sosial yang Pernah Ditinju Ibu-ibu

Audrey Santoso - detikNews
Jumat, 06 Jan 2017 12:34 WIB
Cerita Evi, Pekerja Sosial yang Pernah Ditinju Ibu-ibu
Evi saat di panti sosial (Audrey/detikcom)
Jakarta - Evi Yulianti (23) mengisi hari-harinya dengan mengurusi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Cipayung, Jakarta Timur, sejak satu setengah tahun lalu. Perempuan muda asal Rembang, Jawa Tengah, ini merantau ke Jakarta setelah menyelesaikan studi strata-1.

Evi mengaku tertantang menghadapi problematika sosial di Ibu Kota yang, menurutnya, lebih kompleks dibanding daerah lain.

"Awalnya ditawari (kerja di PSBI Cipayung) sehabis lulus. Lalu jadi ingin mencoba karena merasa tertantang karena masalah kesejahteraan sosial warganya pasti lebih banyak," kata Evi ketika berbincang dengan detikcom, Kamis malam (5/1/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cerita Evi, Pekerja Bina Sosial yang Pernah Ditinju Ibu-ibuEvi saat melakukan pembinaan di panti sosial (Audrey/detikcom)


Sebagai petugas bina sosial, perempuan berkerudung ini bertugas menerima PMKS yang terjaring di jalanan. Dia melakukan assessment kepada PMKS terjaring, dan membina para PMKS yang tinggal sementara di PSBI. Evi bekerja mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.

Evi mengatakan sederet tugas tersebut memberinya banyak pengalaman tak terlupakan, mulai dari hal mengerikan, menyedihkan, hingga menyenangkan.

"Paling mengerikan itu saya pernah ditonjok PMKS yang gangguan jiwa, ibu-ibu umur sekitar 40 tahun. Saat itu habis morning meeting dan saya suruh dia kembali masuk ke panti, dari tenang tiba-tiba ngamuk dan tonjok pipi," ujar Evi.

Dijelaskan dia, penanganan PMKS dengan gangguan jiwa di PSBI tidak boleh menggunakan obat penenang sehingga petugas harus lihai berkomunikasi dengan para penderita agar tidak terkena amukan.

"Di sini kami tidak boleh pakai obat penenang," imbuh Evi.

Evi menggambarkan tugas lainnya, yaitu mengantar PMKS yang orang tua, orang hilang, atau yang amnesia pulang ke rumah mereka. Kegiatan demikian disebut home visit. Biasanya PMKS yang dipulangkan adalah yang sudah selesai menjalani masa binaannya di panti selama 21 hari.

"Sampai telusurin gang-gang di Bekasi, Depok, pernah begitu. Karena mereka (PMKS) disuruh ingat-ingat rumahnya, cuma bisa ingat kelurahannya saja. Akhirnya kita ke satu daerah, bawa foto mereka dan tanya-tanya ke warga ada yang kenal nggak," jelas dia.

Ditanyai mengenai kenangan menyedihkan yang pernah dialami sepanjang menjadi petugas bina sosial, Evi bercerita pernah mengantar pulang wanita paruh baya yang lumpuh tapi keluarganya menolak, bahkan malah menghardik Evi dan si ibu.

"Dia dari rumah sakit, dikirim ke sini, dia telantar. Kita telusuri rumahnya, ternyata ibu itu dicerai suaminya, suaminya nikah lagi. Anaknya juga nggak ngakuin, dibilang, 'Ngapain dibawa ke sini?' Dia akhirnya kembali ke panti sampai sekarang," Evi bercerita.

"Dia pun di sini berusaha membantu, tidak ingin merepotkan," sambung bungsu dua bersaudara itu.

Tak sampai di situ, Evi pun pernah diperlakukan buruk oleh anak punk jalanan yang tidak terima saat terjaring razia PMKS. Mereka mengancam akan balas dendam ketika sudah keluar dari panti.

"Mereka (anak punk jalanan) pernah jebol teralis besi asrama buat kabur. Saya juga diancam, katanya, 'Awas kalau nanti ketemu di luar,'" ucap dia.

Diamuk, dimaki, dan diancam bagi Evi adalah makanan sehari-hari seorang petugas bina sosial. Tapi itu tak membuatnya berkecil hati dan gentar menjalani pekerjaannya.

"Kalau bisa membantu sesama, rasanya ada kepuasan tersendiri. Itu kebahagiaan saya, saat melihat PMKS menghargai apa yang saya lakukan untuk mereka," tutup Evi.

(rvk/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads