Saat kejadian itu, secara kebetulan enam KM Laut Bersih menjadi pihak pertama yang mengetahui kejadian terbakarnya KM Zahro Express tersebut. Keenam kapal ini hendak menuju 10 pulau di Kepulauan Seribu.
"Kebetulan kita memang yang paling dekat. Kita langsung tancap gas, sekencang-kencangnya melihat itu," ujar Kapten KM Laut Bersih 08 Samsudin ketika ditemui di Pelabuhan Kali Adem Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis (5/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Samsudin mengatakan saat itu keenam kapal berada pada jarak sekitar 400 meter atau 0,25 mil dari KM Zahro Express, yang terbakar. Keenam KM Laut Bersih yang berangkat menuju Kepulauan Seribu itu ialah KM Laut Bersih 07, 08, 29, 31, 32, dan 33.
Keenam kapal pun mendekat hingga jarak 20 meter dari KM Zahro Express. Mereka tidak dapat lebih mendekat sebagai antisipasi angin dan arus yang bisa membawa kapal.
"Kita mendekat dalam jarak 20 meter agar tidak terlalu dekat dengan KM Zahro. Selain itu, agar tidak menabrak penumpang atau terkena baling-baling kapal. Karena banyak penumpang yang sudah lompat ke laut," ucap Samsudin.
Di lokasi yang sama, ada Kapten KM Laut Bersih 32 Maruli Sijabat. Maruli mengatakan keenam kapal lalu dibuat dalam posisi melingkar untuk mengurangi derasnya arus laut. Harapannya, para penumpang yang sudah ada di laut dapat berenang lebih mudah ke KM Laut Bersih.
"Arus lautnya kencang. Kita buat posisi melingkar agar arus tidak terlalu kencang. Saya arahkan enam kapal untuk mendahulukan yang tidak pakai light jacket. Kita sebarkan light jacket, berenang anak buah kita. Yang tidak pakai, kita suruh pakai light jacket. Setelah itu, kita angkat ke kapal," ucap Maruli.
Dalam evakuasi yang dilakukan ini, ada 100 orang yang berhasil ditolong. Dalam upaya evakuasi tersebut, beragam upaya dilakukan.
"Banyak usaha yang kita lakukan. Ada yang susah naik dari samping kapal. Karena susah, kita juga bantu mereka naik dari conveyor. Kru kita jadi menolongnya sambil merangkak," cerita Maruli.
![]() |
Conveyor adalah alat yang dipakai KM Laut Bersih untuk mengambil sampah di laut. Posisi conveyor ada di mulut kapal. Maruli mengatakan tidak menyalakan conveyor karena takut para korban yang dibantu lewat conveyor malah terjepit mesin.
KM Laut Bersih 32 sendiri tergolong kapal besar untuk mengangkut sampah. Di kapal ini berhasil dibawa sekitar 60 orang yang ditolong. Sedangkan KM 08 berukuran lebih kecil.
"Waktu itu ada sekitar 30 orang yang bisa kita angkat. Kalau di KM Laut Bersih 32 ada sekitar 60 orang," kata Samsudin.
Selain enam KM Laut Bersih, proses evakuasi penumpang KM Zahro Express ini dibantu oleh kapal nelayan dan pemancing. Selain itu, ada kapal dari Dinas Perhubungan yang datang menyusul.
Korban yang mengalami luka bakar langsung dipindahkan ke kapal Dishub. Sebab, kapal ini dapat melaju lebih kencang dibanding kapal lainnya.
"Kita pulangkan yang sudah dievakuasi. Kita balik kanan ke dermaga Kali Adem. Setelah itu, tunggu arahan dari pimpinan," ujar Samsudin.
Sedianya, kapal ini memiliki tugas dan fungsi mengangkut sampah di Kepulauan Seribu dan mengambil sampah yang ada di laut. Kapal ini beroperasi setiap hari, di mana keberangkatan dimulai pada pukul 08.00 WIB dan kembali ke dermaga Pelabuhan Kali Adem Muara Angke pada pukul 16.00 WIB.
Ada 10 pulau yang selalu dihampiri oleh KM Laut Bersih, antara lain Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Untung Jawa, Pulau Lancang, Pulau Pari, dan Pulau Tidung. Sehari-hari sampah yang dibawa mencapai 75 meter kubik. Setelah kembali ke dermaga, sampah itu kemudian akan dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. (jbr/dhn)