"Terakhir komunikasi lewat WA (aplikasi chatting WhatsApp) dikirim pada 31 Desember 2016, malam tahun baru. Di grup SMP, Lin bilang terobati ya kangennya banyak teman-teman baru masuk (grup). Karena kita kan baru buat grup SMP, Lin salah satu yang baru masuk grup," kisah Eli di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (4/1/2017).
Eli mendatangi RS Polri untuk mencari kepastian tentang sahabat yang dikenalnya sejak duduk di bangku SD hingga kuliah itu. Setelah terbakarnya KM Zahro, hingga kini Lin belum diketahui keberadaannya. Eli mengaku sempat merasakan sebuah kejanggalan saat terakhir kali bertemu dengan Lin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ngundang juga ke rumahnya, kan kita mau reunian, (Lin) enggak bisa datang ke reunian kata dia, dia mau ke Pulau Seribu, dari TK, SMP, SMA bareng kita, bareng terus, kuliah juga bareng di Bandung, inget deh pas dia pacaran sama Pak Bunyamin," sambungnya.
Lin bersama 8 anggota keluarganya pergi merayakan pergantian tahun dengan menumpang KM Zahro Express menuju Pulau Tidung. Jenazah suami Lin, M Bunyamin, sudah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga pada Selasa (4/1), kemudian dibawa menuju Majalengka.
"Sempat komunikasi sebelum berangkat ke Pulau Seribu, Bu Lin ngajak reuni, kita kan semua kampungnya asli Majalengka. Rumah Bu Lin Ciganjur, beliau nyuruh mampir, kok tumben nyuruh mampir, firasat saya dalam hati, kenapa ya. WA-nya Lin terakhir aktif itu Minggu jam 08.09 WIB," tutur Eli.
Dari 9 anggota keluarga Lin yang turut berangkat, 5 di antaranya selamat dan masih mendapatkan perawatan. Selain Lin, ada dua orang yang belum teridentifikasi, yakni Fahira Azahra (17), anak Lin, dan Bunyamin serta Iis Ismawati, saudara ipar Lin.
"Saya teman Pak Bunyamin, mereka pergi bersembilan, sampai saat ini istrinya Pak Bunyamin (Lin Erlina), sama Iis Ismawati (ipar Lin Erlina), dan anak pertamanya, Fahira Azahra, belum teridentifikasi," kata seorang kerabat, Syarifah, di lokasi yang sama.
Syarifah menuturkan suami Iis, Piping Firman, saat ini tengah menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Dia mengaku baru menjenguk dan mendengar cerita detik-detik terbakarnya kapal itu.
"Jadi tadi justru beliau (Piping Firman) itu beranggapan bahwa beliau duduk dekat mesin beserta barang barang, seperti tas, posisi beliau di paling belakang. Ketika beliau duduk di belakang, ada asap dulu pertama ngebul, percikan sedikit, masih belum tahu dari mana sumbernya, ada letupan pertama, menurut beliau (Piping Firman) Pak Ben, istrinya keponakan sudah jalan ke depan," cerita Syarifah.
Foto: Cici Marlina Rahayu |
"Beliau dengar letupan kedua, gelap, beliau tidak bisa bernapas, beliau mencari-cari celah udara ingin bernapas, ada jendela lubang-lubang, keluarkan kepalanya, lalu bernapas, setelah itu tidak tahu lagi. Ini bajunya Pak Piping, bajunya sama kayak yang dipakai istrinya (Iis Ismawati), mereka pakai baju kembaran saat itu," sambung perempuan berjilbab itu sambil menunjukkan baju yang dikenakan Piping saat kejadian. (kst/tor)












































Foto: Cici Marlina Rahayu