Keluhan para pengunjung banyak dicurahkan di media sosial, di antaranya soal sampah dan bau busuk di Malioboro. Padahal trotoar di Malioboro baru saja diresmikan. Keluhan lain adalah tarif parkir di luar ketentuan resmi, pengamen yang memaksa, pengemis, dan harga-harga yang mengambil kesempatan pada musim liburan. Hal tersebut dinilai telah mencoreng citra Yogya sebagai kota wisata.
Gubernur DIY Sri Sultan HB X menanggapi banyaknya keluhan dari masyarakat tersebut. Soal bau tidak sedap akibat sisa makanan di warung-warung PKL, Sultan meminta pemilik dan pelayan warung dipanggil untuk dididik dan diberi pembinaan. Pemilik maupun pelayan warung harus diberi pembinaan bagaimana membuang sisa-sisa makanan secara benar agar tidak mengotori maupun menimbulkan bau tidak sedap di Malioboro.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mohon UPT (unit pelaksana teknis) itu yang aktif, jangan jadi penonton. Kalau memang tidak sanggup, ya sudah saya ganti (Kepala UPT). Mereka punya kewajiban menjaga kebersihan," kata Sultan HB X di kompleks Kepatihan, Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (3/1/2017).
Dinas Sosial mestinya juga bertindak terkait keberadaan pengemis yang sudah mengganggu. Karena sudah ada perda yang mengatur untuk menertibkan keberadaan para pengemis. Malioboro harus dijaga oleh semua pihak, para wisatawan yang datang juga harus membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Sehingga semua pihak bisa sama-sama menjaga kebersihan Malioboro. (rvk/rvk)











































