"Setiap kecelakaan kapal, sering terjadi manifes (jumlah penumpang tercatat dan yang diangkut) yang tidak sesuai. Artinya, pengelolaan terminal penumpang di setiap pelabuhan harus dibenahi," kata pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, kepada detikcom, Senin (2/1/2017).
Ia mengungkapkan hal itu merujuk terbakarnya Kapal Zahro Express, yang baru beranjak dari Pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Minggu (1/1).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Idealnya, di kapal jenis apa pun pengelola minimal harus menyediakan pelampung. Tapi, dalam kenyataan sehari-hari, kapal nelayan atau kapal pompong sekalipun sering kali justru tidak menyediakan pelampung. "Terminal penumpang pelabuhan pun harus steril, tidak sembarangan orang boleh masuk," ujar Djoko.
Untuk kapal besar, selain perangkat keselamatan minimal, seperti pelampung, harus ada petunjuk penyelamatan seperti di pesawat terbang. Terkait dengan hal ini, Djoko menyarankan perlu ada pelatihan buat awak kapal sebelum mendapat sertifikat.
Selain Kepulauan Seribu, Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Wakatobi, dan Pulau Morotai sangat perlu memperhatikan faktor keselamatan transportasi. Dengan demikian, para pelancong akan mendapat jaminan sarana kapal wisata yang berkeselamatan.
Saksikan video dari 20Detik di sini:
(jat/erd)











































