Penyusunan DPP Molor, Soetrisno-Hatta Selamatkan Deal
Senin, 11 Apr 2005 12:44 WIB
Jakarta - Sampai kongres II PAN ditutup Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir, penyusunan pengurus baru DPP PAN 2005-2010 belum tuntas seluruhnya. Hanya sebagian saja yang sudah diumumkan. Lambatnya penyusunan ini dikabarnya karena ada tarik menarik di antara formatur, sementara Soetrisno dan Hatta menyelamatkan deal-deal yang telah disepakati. Rapat formatur untuk menyusun pengurus baru DPP PAN ini dilakukan secara tertutup di sebuah tempat di Hotel Patrajasa, Semarang. Rapat ini berjalan agak lama, sehingga penutupan muktamar molor dari jadwal yang direncanakan. Sampai detik-detik terakhir, Soetrisno Bachir (SB) baru menyelesaikan penyusunan sebagian pengurus. Tim formatur terdiri dari Zulkifli Hasan, Didik J Rachbini, Andi Yuliani Paris, Hatta Rajasa, Abdul Hadi Jamal, Ibrahim Sakti, AM Fatwa, Ahmad Farhan Hamid, Lili Walanda, Asman Abnur, Patrialis Akbar dan Djoko Edy S Abdurahman. Amien Rais dan SB juga ikut dalam rapat formatur ini. Formatur sebaiknya bisa menyusun pengurus baru sebelum kongres ditutup dan kemudian susunan pengurus baru diumumkan di penutupan kongres. Namun, hal ini tidak bisa dilakukan oleh formatur. "Kongres I di Yogya dulu langsung bisa menyusun pengurus harian. Mengapa kongres ini tidak bisa," kata salah seorang peserta kongres II PAN kepada detikcom, Senin (11/4/2005). Menurut sumber detikcom lainnya, lambatnya penyusunan pengurus baru ini, karena ada tarik menarik di antara personel formatur. Maklum, tim formatur bukanlah berasal dari satu, tapi beberapa kubu. Hatta dan Soetrisno jelas satu kubu. Sementara AM Fatwa dan Didik J Rachbini di kubu yang lain. Adanya kubu yang berbeda dalam formatur ini mengakibatkan formatur mengambil keputusan untuk posisi jabatan pengurus. Apalagi, sebelumnya beredar informasi cukup kuat bahwa mundurnya Hatta Rajasa dari pencalonan dan melimpahkan pendukungnya untuk mendukung SB juga karena ada deal-deal terkait jabatan di DPP. Informasi yang beredar, Hatta memang menawar agak mahal ke Soetrisno. Mahalnya tawaran Hatta ini, karena Hatta berada di peringkat kedua pilihan DPW-DPW dan DPD-DPD PAN. Selain posisi sekjen, posisi bendahara umum juga harus jatuh ke tangan kubu Hatta. Sekjen merupakan orang kedua di DPP PAN setelah ketua umum, sementara bendahara umum merupakan orang ketiga. Dan tampaknya, kata sumber tersebut, Soetrisno dan Hatta ingin menyelamatkan deal-deal ini. AM Fatwa dan Didik J Rachbini dikabarkan menolak kesepakatan Soetrisno-Hatta itu. "Hal inilah yang mengakibatkan penyusunan pengurus baru jadi lamban," ujarnya. Memang, dalam rapat itu ada Amien Rais yang diharapkan bisa menengahi. Namun, dari awal, Amien memang sudah memposisikan dirinya lebih condong SB dan Hatta. Akhirnya, rapat tim formatur pun menghasilkan susunan kepengurusan yang lebih menguntungkan kubu Hatta. Sekjen dipegang oleh Zulkifli Hasan, sementara bendahara umum dipegang oleh Asman Abnur. "Kedua orang ini tim sukses Hatta," kata sumber itu. Sejumlah orang kubu Hatta juga masuk di jajaran ketua, seperti Ahmad Farhan Hamid dan Abdul Hadi Jamal. Pertentangan dan perdebatan itu akhirnya hanya membuat tim formatur bisa menyusun kepengurusan yang diisi oleh anggota formatur. Padahal, seharusnya sebelum penutupan kongres, tim formatur harus sudah bisa menentukan posisi 14 ketua, 1 sekjen, 14 wakil sekjen, 1 bendahara dan 9 wakil bendahara.Menurut sumber lainnya, susunan pengurus DPP lainnya akan diselesaikan setelah kongres, juga disebabkan oleh keinginan SB yang ingin merangkul semua pihak, termasuk kubu Fuad Bawazier. "Tapi, kubu Fuad belum memberikan respons. Apalagi Fuad sudah tidak tertarik dengan DPP PAN," kata dia.
(asy/)











































