"Sebaiknya sih harus melibatkan kaum disabilitas, istilahnya test drive dulu. kalau pakai kursi roda seperti apa, apakah lebih mudah. Tetapi harus dipenuhi standarnya dulu, karena kalau melibatkan penyandang dan penyandang tidak tahu ya tidak mengerti juga," ujar Ghufron saat dihubungi detikcom, Kamis (29/12/2016).
"Karena kan mereka juga berbeda-beda kebutuhannya. Istilahnya desain universal atau sebuah bangunan atau produk yang didesain untuk semua bisa, kalau penyandang disabilitas bisa, maka yang lainnya juga bisa," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ghufron menyarankan halte tersebut perlu diaudit. Salah satu audit tersebut apakah halte itu dapat digunakan penyandang disabilitas.
"Perlu diaudit bangunan ya aksesnya untuk penyandang disabilitas. Kalau tidak sesuai harus diubah," imbuh Ghufron.
Sebelumnya, halte TransJakarta Koridor 13 Ciledug-Tendean dinilai tak ramah pengguna. Letak halte yang terlalu tinggi dan tangga yang terlalu curam dinilai jadi titik masalahnya.
Halte tersebut mendapatkan sorotan dari Pegiat Tata Kota, Elisa Sutanudjaja. Menurutnya, halte yang berlokasi dekat dengan Kejaksaan Agung tersebut tak ramah pejalan kaki, bahkan bagi penyandang disabilitas.
"Ini aduh 'speechless' ngomentarinya. Saya dari tahun 2014 yang ngomentari ini. Dulu Cipulir lebih tinggi lagi tapi belum lihat," kata Elisa saat bertemu detikcom di lokasi, Kamis (29/12). (dkp/dhn)










































