Rabu Pon dan Masuknya Sri Mulyani di Reshuffle Jilid II

Kaleidoskop 2016

Rabu Pon dan Masuknya Sri Mulyani di Reshuffle Jilid II

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Rabu, 28 Des 2016 12:05 WIB
Rabu Pon dan Masuknya Sri Mulyani di Reshuffle Jilid II
Jokowi saat mengumumkan kabinet baru. (Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom)
Jakarta - Pertengahan 2016 diwarnai perombakan kabinet oleh Presiden Joko Widodo. Untuk kedua kalinya selama menjabat, Jokowi melakukan kocok ulang para menterinya.

Jokowi resmi mengumumkan formasi baru kabinetnya pada Rabu (27/7/2016). Berbeda dengan reshuffle yang pertama, kali ini dia terlebih dahulu memberi pengumuman sebelum melantik menteri-menteri baru.

"Saya tegaskan reshuffle ini untuk penguatan kinerja kabinet," kata Presiden Jokowi dalam konferensi pers pengumuman reshuffle kabinet di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, sekitar pukul 11.00 WIB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angin reshuffle memang sudah lama berembus sebelum tanggal tersebut. Terlebih ketika satu per satu partai oposisi merapat ke pemerintah, dan puncaknya adalah Golkar--yang tercatat sebagai koordinator Koalisi Merah Putih--yang mendeklarasikan dukungan ketika melakukan musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) pada Mei 2016.

Sebelum Golkar, PAN-lah yang terlebih dahulu menyatakan dukungannya kepada pemerintah pada 2015. Tetapi PAN tak serta-merta langsung mendapatkan kursi di kabinet.

Sementara itu, walau Golkar secara 'de jure' juga belum berdiri di jajaran Kabinet Kerja, Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah mantan Ketum Golkar dan Menko Polhukam saat itu, Luhut Binsar Panjaitan, adalah mantan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Golkar. Partai berlambang pohon beringin ini memang tak secara resmi mengusulkan JK dan Luhut untuk berada di kabinet.

Dua kursi menteri yang sebelumnya ditempati Hanura kemudian diisi Golkar dan PAN. Posisi Hanura lalu bergeser dari menteri teknis menjadi menteri koordinator, dengan masuknya sang ketua umum, Wiranto.

Reshuffle kabinet jilid II ini kemudian langsung dianggap sebagai bagi-bagi porsi kepada partai politik dengan masuknya kader PAN dan Golkar. Tetapi anggapan itu langsung dibantah oleh Seskab Pramono Anung, dengan menyebut jumlah kalangan profesional nonparpol lebih mendominasi kabinet.

"Kalau dilihat komposisi keseluruhan kan tetap profesionalnya tetap banyak. Itu memang hal yang menjadi keinginan Presiden dan Wakil Presiden," kata Pramono di Istana Merdeka.
Rabu Pon dan Masuknya Sri Mulyani di Reshuffle Jilid IIFoto: Ilustrator Andhika Akbarayansyah


Adapun pergantian yang dilakukan di tahun ini adalah Luhut Panjaitan yang sebelumnya Menko Polhukam menjadi Menko Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli, Sri Mulyani Indrawati menjadi Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brodjonegoro, Bambang kemudian menjadi Menteri PPN/Kepala Bappenas menggantikan Sofyan Djalil, sementara Sofyan kemudian menjadi Menteri Agraria menggantikan Ferry Mursyidan Baldan. Posisi Marwan Jafar sebagai Menteri Desa diganti oleh Eko Putro Sandjojo yang juga kader PKB, posisi Anies Baswedan sebagai Mendikbud diisi Muhadjir Effendy, posisi Yuddy Chrisnandi ditempati oleh Asman Abnur yang merupakan kader PAN, posisi Saleh Husin sebagai Menperin diisi Airlangga Hartarto yang merupakan kader Golkar, posisi Thomas Lembong ditempati Enggartiasto Lukita, dan posisi Menko Polhukam ditempati Wiranto.

Ignasius Jonan pun turut digeser dari jabatan Menteri Perhubungan dan posisinya kemudian dipercayakan kepada Budi Karya Sumadi. Lalu, Sudirman Said yang namanya mencuat ketika membongkar kasus 'papa minta saham' juga tergantikan dari kursi Menteri ESDM. Pengganti Sudirman adalah Arcandra Tahar.

Baru sekitar dua pekan menjabat, kewarganegaraan Arcandra kemudian ramai diperbincangkan. Pria yang selama 20 tahun belakangan bekerja di perusahaan AS itu rupanya telah tercatat sebagai warga negara Paman Sam.

Jokowi langsung mencopot Arcandra dari jabatan Menteri ESDM. Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan kemudian menjalankan fungsi-fungsi Menteri ESDM untuk sementara.

Nama Arcandra memang sudah mengundang tanya publik sejak hari pelantikan. Terbukti, namanya masuk sebagai salah satu orang yang paling dicari di situs pencarian Google.

(Baca juga: Sri Mulyani, Arcandra Tahar dan Anies Baswedan yang Mengundang Tanya)

Tak cuma Arcandra sebetulnya, nama fenomenal di reshuffle jilid II lainnya adalah Sri Mulyani Indrawati. Jabatan Menteri Keuangan sebetulnya bukan yang pertama kali dia lakoni. Pada era pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Mulyani juga berperan di posisi tersebut sebelum akhirnya menjadi salah satu pimpinan di Bank Dunia.

Masuknya Sri Mulyani dinilai bisa membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia saat itu. Terlebih, pemerintah sedang mencanangkan program amnesti pajak. Figur Sri dianggap mampu menjadi magnet agar para pengusaha RI membawa pulang uang mereka ke Tanah Air.
Rabu Pon dan Masuknya Sri Mulyani di Reshuffle Jilid IIFoto: Bagus Prihantoro/detikcom

Nama berikutnya yang memancing pertanyaan publik adalah Anies Baswedan. Figur yang menjadi jubir Jokowi-JK saat Pilpres 2014 itu akhirnya masuk gelombang perombakan kabinet.

"Oh enggak sama sekali, enggak merasa disingkirkan. Mungkin Pak Presiden punya pemikiran sendiri, saya kan hanya menjalankan amanat saja," jawab Anies kala ditanya detikcom perihal pencopotannya sebagai Mendikbud, Kamis (28/7).

Hari pengumuman formasi baru kabinet juga sempat dicocok-cocokkan dengan tahun sebelumnya. Secara kebetulan, pengumuman dilakukan pada Rabu, tepatnya pada 12 Agustus 2015.

Kebetulan hari pada saat reshuffle I dan II adalah Rabu Pon dalam penanggalan Jawa. Kebetulan pula pada pelantikan Jokowi menjadi Presiden RI pada 20 Oktober 2014 juga Rabu Pon, dan dia juga lahir di hari itu, pada 21 Juni 1961.

Dikutip dari berbagai sumber, Neptu (nilai) dari Rabu pada penanggalan Jawa adalah 7 dan Pon juga 7. Kebetulan pula Jokowi adalah Presiden ke-7 RI.

Lama kemudian setelah pengumuman reshuffle jilid II, atau sekitar 3 bulan, Ignasius Jonan kembali memperkuat kabinet. Jonan didaulat untuk menjadi Menteri ESDM yang sebelumnya kosong, sementara Arcandra Tahar yang sempat bermasalah kewarganegaraannya menjadi Wakil Menteri ESDM.

Halaman 2 dari 2
(bag/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads