DetikNews
Rabu 28 Desember 2016, 10:50 WIB

Kaleidoskop 2016

Geger Bom Thamrin dan Mencuatnya Sosok Bahrun Naim

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Geger Bom Thamrin dan Mencuatnya Sosok Bahrun Naim Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
Jakarta - Pagi menjelang siang pada pertengahan Januari 2016 itu dikagetkan oleh suara ledakan di kawasan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Salah satu titik ledakan adalah pos polisi di seberang Sarinah.

Ledakan itu terdengar sekitar pukul 10.45 WIB, Kamis (14/1/2016). Tiga jenazah tergeletak di dekat pos polisi seberang Sarinah.

Tak lama setelah itu, terjadi baku tembak antara polisi dan teroris. Salah satu hal yang berbeda dari teroris ini adalah pakaian yang dikenakan, yakni kasual dengan kaus dan celana jins.

(Baca juga: Kronologi Teror ISIS di Thamrin)

Ada tujuh orang yang tewas dalam peristiwa hari itu. Mereka adalah Rico, Sugito, Dian Juni Kurniadi, M Ali, Afif alias Sunakim, Amer Quali Tahar (WN Kanada), dan Ahmad Muhazam bin Saron. Selain itu, 23 orang terluka dalam kejadian ini.

Adalah Afif dan Ali, teroris yang melakukan penyerangan terhadap polisi. Keduanya akhirnya tewas setelah tubuhnya ditembus timah panas sebelum sempat menyalakan bom.

Presiden Jokowi, yang pada hari itu melakukan kunjungan kerja ke Cirebon, mendadak memotong jadwalnya. Jokowi kembali ke Jakarta dan langsung mendatangi lokasi pengeboman yang sudah steril.

"Kita semuanya mengecam tindakan yang mengganggu keamanan masyarakat, mengganggu ketenangan rakyat, dan menimbulkan teror ke masyarakat," kata Jokowi sebelum kembali ke Jakarta saat itu.

Setelah melihat situasi di lokasi, Jokowi mengumpulkan para menteri dan kepala lembaga negara di Istana untuk membahas penanganan pascaledakan. Kemudian Tito Karnavian, Kapolda Metro Jaya saat itu dan masih berpangkat irjen, mengungkap nama Bahrun Naim sebagai dalang teror.

"Bahrun Naim ingin mendirikan ISIS, ingin menjadi leader di Asia Tenggara," kata Tito dalam jumpa pers di kantor Presiden, Jl Veteran, Jakarta Pusat.
Geger Bom Thamrin dan Mencuatnya Sosok Bahrun NaimFoto: Ilustrasi oleh Basith Subastian

Bahrun Naim tidak asing dalam dunia terorisme. Pada tahun 2010, Bahrun dijatuhi hukuman 2,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Surakarta karena terbukti melanggar Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api dan Bahan Peledak.

Setelah peristiwa pengeboman itu, muncul sosok AKBP Untung Sangaji, seorang anggota Polair yang kebetulan berada di lokasi. Untung berhasil menembak jatuh teroris saat kejadian.

"Waktu itu sudah banyak anggota yang pakai body vest (rompi antipeluru). Saya bilang ke mereka yang di belakang, 'Dik, aku pinjam body vest-mu, ya.' Ternyata tidak ada yang mau. Rupanya mereka juga takut kena tembak. Ya sudah, saya maju saja tanpa body vest. Saya lihat senior-senior saya, ada Kapolda, Karo Ops, Kabag Ops, beliau (menunjuk ke arah Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes M Iqbal), semua berani. Kenapa saya tidak berani?" ungkap Untung saat berbagi cerita di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (16/1/2016).

Selain fenomena AKBP Untung, muncul pula 'polisi ganteng' yang banyak dicari oleh netizen. Gaya mereka yang stylish saat baku tembak dengan teroris menjadi perbincangan banyak orang di dunia maya. Tak mengherankan bila kaus bertulisan 'Turn Back Crime' yang mereka pakai langsung diburu masyarakat.

Polisi ganteng yang fotonya viral itu salah satunya adalah Kompol Teuku Arsya Khadafi. Pria berkacamata itu saat ini menjabat Kepala Unit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Geger Bom Thamrin dan Mencuatnya Sosok Bahrun NaimFoto: meme viral

Sehari-hari, Arsya memang berpenampilan stylish. Cara berpakaiannya yang selalu necis ditambah rambutnya yang klimis membuat penampilan Arsya semakin good looking.

Sebagai polisi, Arsya dikenal tegas tapi ramah dan tidak sombong. Lesung pipinya tampak ketika pria berusia 36 tahun ini tersenyum. Tetapi dia menolak ketika hendak diwawancara.


(bag/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed