"Memang, secara kuota, bajaj di DKI sebanyak 14.924. Tetapi sampai saat ini yang beroperasi 13 ribuan. Dengan kebijakan bahwa bajaj harus gas atau yang biru, akhirnya kita memberikan kebijakan sampai akhir Desember 2016 bajaj merah harus ganti dengan bajaj biru," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (28/12/2016).
Andri menjelaskan pihaknya sengaja menahan kuota bajaj yang beroperasi pada angka 13 ribu. Namun ia mengatakan akan membuka seluruh kuota jika semua bajaj telah menggunakan BBG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama, Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono menganggap bajaj sebagai cagar budaya Jakarta. Oleh sebab itu, menurutnya, pemerintah provinsi tidak akan menghapus bajaj dari Jakarta.
"Jakarta tidak lepas dari bajaj. Sebenarnya bajaj sebagai transportasi ini semacam cagar budaya. Ciri khas Jakarta ada bajaj. Kalau itu dihilangkan, nilai budayannya juga hilang. Akan tetap ada, tapi kita modernisasi dengan fasilitas yang lebih baik," ucap Sumarsono.
Soni, sapaan akrab Sumarsono, menyatakan keberadaan bajaj BBG sebagai bentuk pembangunan yang ramah lingkungan. Selain itu, peremajaan armada bajaj ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.
"Tidak akan menggulungtikarkan semua, penghapusan bajaj itu tidak ada. Yang ada adalah penyesuaian atas desakan pembangunan yang lebih ramah lingkungan, itu intinya. Sekaligus tuntutan memberi pelayanan terbaik pada customer. Bajaj merah itu sudah lama dan kedaluwarsa, jadi modernisasi dengan bajaj biru yang gas. Harapannya bisa memberi pelayanan terbaik," ujar Sumarsono.
Dengan adanya kebijakan ini, bajaj merah seperti yang dikenal di sitkom 'Bajaj Bajuri' tidak akan terlihat lagi di jalanan tahun 2017. Bye! (HSF/rvk)











































