Promosi itu dipaparkan Ahok setelah putusan sela diketok oleh majelis hakim PN Jakarta Barat hari ini, Selasa (27/12/2016). Dalam putusannya, hakim menolak nota keberatan Ahok dan memutuskan sidang dilanjutkan ke pokok perkara.
Ahok sadar proses sidang yang dijalaninya tidak akan singkat. Bahkan, setelah ada putusan di tingkat pertama, baik Ahok maupun jaksa bisa mengajukan banding hingga kasasi. Posisinya sebagai gubernur aktif juga terancam karena status terdakwa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Djarot lebih baik dari nomor 1 dan nomor 3. Saya kalau terpilih, masih jadi gubernur, hanya nonaktif. Saya masih bisa kasih masukan ke Djarot. Kita akan selalu koordinasi," ujar Ahok kepada pendukungnya di Rumah Lembang.
"Jangan mau dibohongi daripada Djarot mending pilih nomor 1 atau nomor 3," imbuhnya.
Ahok bercerita bagaimana dia dan Djarot sudah kompak dan akan selalu berkoordinasi. Kisah bersatunya mereka pun dibuka di hadapan pemilih, termasuk soal ngototnya Ahok agar didampingi Djarot.
"Pas PDIP enggak mau kasih (Djarot sebagai cawagub), makanya saya pilih Heru. Bu Mega tanya, 'Ada apa dengan Ahok-Djarot, yang milih kan Ahok. Kok sekarang enggak mau lagi sama Djarot'. Saya bilang, 'Ibu enggak mau kasih (Djarot sebagai wakil Ahok-red) karena mau isi KTP (syarat maju sebagai calon independen), makanya saya pilih Heru'," cerita Ahok.
"Saya yang pilih Djarot," imbuhnya.
Keraguan pendukung pun dipatahkan oleh mantan Bupati Belitung Timur ini. Mulai dari kompetensi Djarot untuk memimpin Jakarta hingga isu titipan PDIP.
"Banyak yang tanya, apakah Djarot mampu (jadi gubernur)? Banyak yang nyangka Djarot titipan PDIP. Itu salah, yang milih Djarot itu saya," tegasnya.
Akankah 'promosi' Ahok tentang Djarot itu ampuh bagi pendukungnya?
(imk/van)











































