"Peran serta masyarakat dalam mencegah aksi terorisme dapat ditingkatkan. Ini namanya pemagaran sosial. Memang seharusnya peran masyarakat dilibatkan secara lebih luas dalam pencegahan aksi terorisme," kata Al Chaidar dalam sebuah perbincangan lewat sambungan telepon, Senin (26/12/2016) malam.
Al Chaidar mengatakan saat ini peran masyarakat memang masih minim dalam mencegah aksi terorisme. Menurutnya, banyak cara yang dapat dibuat agar masyarakat aktif terlibat dalam pencegahan terorisme. Selama ini masyarakat pasif karena menganggap urusan terorisme adalah urusan negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini berkaca pada masyarakat Bandung yang berhasil membuat resah kelompok teroris yang berhasil diungkap di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Mereka terus mempertanyakan asal-usul kelompok tersebut hingga memutuskan angkat kaki dari Bandung.
"Kalau di Bandung, kondisi masyarakat cukup aware karena pendidikan masyarakat di sana sudah cukup tinggi. Selain itu, kondisi sosial masyarakat Bandung homogen. Sehingga kondisi homogen tersebut secara otomatis akan membuat warga bertanya-tanya jika ada pendatang baru di sebuah wilayah. Kondisi berbeda di Tangerang Selatan, Bekasi, dan Depok yang masih kurang aware masyarakatnya," ujar Al Chaidar.
Sebagaimana diketahui, para teroris itu terdesak oleh masyarakat yang terus menanyakan identitas mereka. Akibatnya, teroris itu tinggal di area waduk.
Menurut Chaidar, hal ini terjadi karena masyarakat Bandung memiliki tingkat pendidikan yang cukup serta memiliki karakter masyarakat yang mau peduli. Hal itu bisa ditingkatkan dengan mengajak masyarakat untuk terlibat. Al Chaidar mengatakan sayembara juga dapat memicu minat masyarakat. Dan model sayembara ini, menurutnya, cocok di Indonesia.
"Peran masyarakat masih kecil sekali. Pemerintah juga tidak memberlakukan sayembara atau mendorong masyarakat untuk melaporkan. Kalau dulu kan disebarkan foto-foto. Harusnya kalau mau melibatkan masyarakat lebih besar caranya seperti itu. Tapi kan pemerintah kadang merasa yakin dengan kemampuan anggotanya," ungkap Al Chaidar.
"Kalau mau dilibatkan, ada cara untuk melibatkan masyarakat. Caranya ialah membuka agar orang menjadi pemburu hadiah sehingga masyarakat semakin aktif. Di Indonesia, cara seperti ini, menurut saya, cocok. Kalau tidak, masyarakat juga tidak terlalu peduli. Kalau dilaporkan dan tidak dikasih apa-apa akan membuat mereka kurang berminat," tambahnya.
Chaidar menambahkan kehidupan sosial masyarakat semestinya dimunculkan kembali. Mekanisme keamanan, seperti pembentukan sistem keamanan keliling (siskamling) dan tamu wajib lapor 1 x 24 jam di lingkungan RT/RW, setidaknya dapat menjadi pemagaran sosial, sebut Al Chaidar.
Sebelumnya, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Brigjen Rikwanto memberikan apresiasi kepada masyarakat karena ikut berperan dalam pencegahan aksi teror. Warga sekitar terus mempertanyakan identitas kelompok yang tinggal di daerah Bandung tersebut. Mereka pun akhirnya angkat kaki.
Hingga kemudian kelompok tersebut pindah dan tinggal di Waduk Jatiluhur. Mereka pindah sejak 20 Desember 2016. Kepindahan ini disebabkan warga sekitar yang terus mencurigai mereka. Para warga kerap mempertanyakan asal-usul mereka. (jbr/dnu)











































