"Dalam perjalanan, cuaca buruk, hujan badai, gelombang besar, tapi masih kontak dengan KRI Layang. Lalu lost contact," ungkap Kadispen Armada Timur (Armatim) TNI AL Letkol (KH) Maman Sulaeman saat dihubungi detikcom, Jumat (23/12/2016).
Peristiwa ini berawal saat KRI Layang menemukan adanya KIA dengan bendera Filipina bernama Kapal Nurhana memasuki wilayah perairan Indonesia, Selasa (13/12). KRI Layang sedang melakukan patroli di perbatasan Indonesia-Filipina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mayoritas dari WNA Filipina diangkut ke KRI Layang. Hanya tersisa nakhoda, juru mesin dan juru masak yang dikawal oleh empat kru KRI Layang untuk menuju lanal terdekat. Dalam perjalanan awal, tim kawal masih bisa berkomunikasi dengan KRI Layang yang melanjutkan melakukan patroli.
"Kapal kawalan mampu bertahan selama 4-5 hari dengan cepat 5-8 knots. Rencananya kapal akan tiba di Lanal Melonguane pada tanggal 15 Desember 2016 pukul 12.00 WIT," terang Maman.
KRI Layang yang dikomandani oleh Mayor Laut (P) Agus Susatya tersebut masih bisa berkomunikasi dengan tim kawal hingga Rabu (14/12) siang. Namun setelahnya KRI Layang kesulitan menghubungi. Pada malam harinya, komunikasi bisa dilakukan namun tidak jelas.
"Terus hilang contact. Komandan KRI terus mencari lokasinya. Tidak ketemu. Kondisi cuaca yang mulai berkabut ditambah laut yang berombak dan hujan, KRI Layang melaksanakan pencarian KIA Nurhana yang sampai saat ini masih belum ditemukan," Maman menjelaskan.
Hal senada juga disampaikan oleh Kadispen TNI AL Laksma Gig Sipasulta. TNI AL terus melakukan pencarian terhadap Kapal Nurhana yang membawa empat prajuritnya.
"Saat ini sedang dilaksanakan pencarian terhadap 4 ABK KRI Layang yang melaksanakan pengawalan terhadap KIA Filipina di Perairan Talaud. Karena faktor cuaca dan kondisi geografis di lokasi hilang kontak sejak tanggal 14 Desember 2016," tutur Gig kepada detikcom, Jumat (23/12). (elz/tor)











































