"Kami sudah biasa menyelesaikan masalah cepat. Hanya ada kemungkinan orang kita menyebut kita sembarangan. Karena saya cepat. Mereka pikir saya sembarangan, saya memutuskan sesuatu sesuai kajian," ungkap Ahok kepada pendukungnya di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (23/12/2016).
Ahok bercerita cara dia mengambil keputusan dengan mengundang pakar untuk berdiskusi. Dari hasil diskusi, Ahok mendapatkan kesimpulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kita kerja cepat, beda halnya sudah bodoh, istilahnya di kampung saya, ada nasihat kalau jadi orang bodoh itu nurut. Tapi kalau pintar ya mengajar. Jangan jadi orang bodoh tidak mau nurut, pintar tidak mau mengajar, itu kurang ajar," sambungnya.
Ahok menambahkan dia juga menerima aspirasi dari siapa pun. Tetapi, keputusan tetap di tangannya.
"Orang magang pun ngomong saya dengar kok. Tapi soal putusan itu urusan saya? Kenapa? Saya kan dengar sepuluh, kalau memutuskan sepuluh saya bisa putuskan sendiri mana yang terbaik," papar mantan Bupati Belitung Timur ini.
Suami Veronica Tan ini mengatakan resep kinerja cepatnya dengan Djarot karena tidak ada kepentingan lain. "Kita kerja sangat cepat, karena kami tidak ada kepentingan. Kepentingan kami cuma kerja, dapat gaji. Pagi, siang, malam tidak memikirkan yang lain. Kami yakin kombinasi seperti ini tidak berantem," tambah Ahok.
Dia sempat bercerita saat pembagian tugasnya dengan Gubernur DKI Jakarta kala itu, Joko Widodo. Ahok bercerita tidak ada masalah dalam pembagian tugas mereka saat itu.
"Pak Jokowi bilang, 'Saya nggak bagi-bagi, mau wakil saya ambil 80 persen, 90 persen, saya kasih saja'. Misalnya ibu-ibu di rumah lagi nyuci piring, terus ada saudara datang berebut cuci piring, sampai berantem. Kalau ada yang mau berebut cuci piring di rumah saya, saya juga mau. Apalagi pas Lebaran pembantu saya pulang," kata Ahok.
Bahkan, dia bersyukur berduet dengan Djarot karena sama-sama memiliki pengalaman memimpin daerah dan pernah duduk di kursi legislatif.
"Saya dengan Pak Djarot dan dulu dengan Pak Jokowi, saya merasa beruntung. Pak Jokowi pengalaman wali kota, saya bupati. Sekarang dengan Pak Djarot, dia pengalaman wali kota sepuluh tahun. Kami pengalaman, di DPRD pengalaman, DPR juga pengalaman," pungkasnya. (dkp/elz)











































