"Dalam rangka tanggap darurat narkotika, BNN memberantas sindikat narkotika dengan jumlah 807 kasus dan mengamankan 1.238 tersangka," kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso dalam jumpa pers akhir tahun BNN 2016 di gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (22/12/2016).
Buwas mengatakan, petugas juga menyita barang bukti dari para tersangka. Di tahun 2016, narkoba jenis ganja menjadi barang bukti yang paling banyak disita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Kartika Sari Tarigan/detikcom |
Selain itu, sejumlah jenis narkotika lainnya juga turut menjadi barang bukti, di antaranya heroin, morfin, kokain, hashish, dan benzodiazepine. Dari hasil pengungkapan itu, ditemukan sejumlah jenis narkotika baru.
"BNN telah menemukan 46 narkotika jenis baru, 18 di antaranya sudah masuk dalam pelampiran Permenkes," sebutnya.
Selain narkotika, tindak pidana pencucian uang (TPPU) juga jadi sasaran BNN. Ada 21 kasus TPPU dengan 30 tersangka yang ditangani BNN.
"Dengan jumlah kerugian mencapai Rp 261 miliar lebih," ujarnya.
"Dari jumlah pengungkapan kasus BNN tahun 2016, jika dibanding pada tahun 2015, ada peningkatan 56 persen dalam narkotika dan 58 persen dalam pemberantasan TPPU," kata Buwas.
China Pemasok Terbesar Narkoba ke Indonesia
Kepala BNN Komjen Budi Waseso (Buwas) menyebut peredaran sindikat internasional narkoba di Indonesia masih didominasi China. "Internasional masih ada 72 jaringan, itu merata. Hanya masih belum bisa kita lakukan penindakan karena alat buktinya belum kita yakini ada," katanya.
Menurut Buwas, ada 11 negara jaringan narkoba yang 'menyuplai' narkotika ke Indonesia. Selain China, jaringan pemasok lainnya adalah Malaysia dan Nigeria.
"Tapi 72 jaringan masih eksis dan masih memanfaatkan jaringan dan menggunakan lapas," sambungnya.
Selain itu, pergerakan pasar narkoba sejauh ini masih dapat dikendalikan dari balik lapas. Beberapa yang terlibat penyeludupan dan pengedaran narkoba merupakan para 'pemain lama'.
"Beberapa kekuatan lama masih terus bekerja memanfaatkan jaringan yang ada di Malaysia dan Singapura. Kerja sama sudah kita lakukan, tapi sampai saat ini belum maksimal," ujar Buwas.
Keterlibatan oknum juga disebut menjadi hal yang paling berperan dalam peredaran narkoba dari dalam lapas. BNN, kata Buwas, ke depannya akan menggandeng sejumlah instansi terkait untuk memberantas hal tersebut.
"Memang BNN sudah bekerja sama dengan lapas, cuma oknumnya sulit, komitmen yang belum sepenuhnya. Langkah-langkah ke depan bekerja sama dengan Polri, kalau perlu TNI. Terhadap oknum lapas, karena jaringan bisa bekerja kalau dibantu dengan oknum sipir. Oknum itu pengkhianatan. Pengkhianatan bangsa," tuturnya. (kst/fdn)












































Foto: Kartika Sari Tarigan/detikcom