Begini Cara Komunikasi Omen dengan Jaringan Teroris di Dunia Maya

Bom Besar di Tangsel

Begini Cara Komunikasi Omen dengan Jaringan Teroris di Dunia Maya

Bartanius Dony A - detikNews
Kamis, 22 Des 2016 13:41 WIB
Begini Cara Komunikasi Omen dengan Jaringan Teroris di Dunia Maya
Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di rumah lokasi penemuan bom di Setu, Tangerang Selatan. 3 jenazah terduga teroris juga sudah dibawa.(Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian menyebut saat ini kelompok teroris sudah memanfaatkan dunia maya untuk berkomunikasi, merekrut anggota baru, hingga melakukan pendanaan. Seperti apa bentuk komunikasi mereka di dunia maya?

Anggota jaringan teroris salah satunya berkomunikasi lewat jejaring sosial Facebook. Hal itu dilakukan oleh Abdul Rahman alias Omen, terduga terorisme yang tewas dalam penggerebekan di Setu, Babakan, Tangerang Selatan pada Rabu (21/12/2016) kemarin.

Omen adalah bekas anak punk yang dijatuhi hukuman 7 tahun penjara karena kasus pembunuhan. Dia sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, lalu dipindah ke Lapas Subang di Jawa Barat. Dia bebas pada 17 Agustus 2016 setelah mendapatkan remisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah bebas, Omen yang direkrut oleh Raja Keong alias Abu Haikal kemudian menjalin komunikasi dengan anggota teroris lainnya melalui Facebook dengan akun @Juhaiman Al Arkhabiliy.

Omen menggunakan akun @Juhaiman Al Arkhabiliy untuk berkomunikasi dengan beberapa anggota Jamaah Anshorut Tauhid, antara lain @Ammar_Barbarossa milik Achmad Taufik alias Ovie, terpidana kasus teroris bom Kedubes Myanmar. Komunikasi keduanya terjadi setelah Omen bebas dan minta dijemput.

Orangnya Ammar Barbarossa alias Ovie berencana menjemput Omen di Jakarta, namun tidak ketemu. Omen kemudian dijemput oleh oleh orangnya Wikra Wardana alias Oca yang memiliki akun Facebook @Zacky_Umarov.

Pada 28 Agustus 2016, Omen dengan akun Facebook @Juhaiman Al Arkhabiliy menjalin komunikasi akun @Ahmad Al Sam miun. Kepada Omen, Ahmad Al Sam miun mengirimkan sebuah KTP atas nama Ivan Armadi Hasugian alias Abdurahman Madi. Omen mengaku tak mengenal nama seperti ditulis dalam KTP tersebut.

Namun Omen dan Ivan kemudian menjalin komunikasi melalui Facebook. Melalui Facebook juga Omen mengajari Ivan cara meracik bom. Ivan menggunakan akun Facebook @Abu-Kafka.

Omen mengaku kepada Ivan berasal dari Medan. Dia pun mengajak Ivan Hasugian untuk melakukan amaliah atau serangan bom bunuh diri bersama di Medan. Mereka berdua juga menjalin komunikasi di Telegram.

Beruntung, polisi berhasil mencegah Omen dan Ivan melakukan bom bunuh diri. Pada Rabu (21/12) kemarin, Omen bersama Irwan dan Helmi tewas dalam penggerebekan oleh Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Markas Besar Polri di Setu, Babakan, Tangerang Selatan.

Komunikasi jejering teroris di dunia maya ini menjadi perhatian serius Polri. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, polisi membentuk tim cyber yang khusus mengawasi gejala terorisme yang menyebar di internet. Cara tersebut digunakan sebagai perlawanan dan mencari jejak jaringan teroris.

"Oleh karena itu, kita gunakan kemampuan untuk lakukan cyber counter terorism juga. Intinya, ada cyber army, cyber troop, yang tiap hari kerjanya hanya membaca website mereka. Ketemu chating room-nya mereka. Masuk dengan mereka. Kepada mereka kita lakukan cyber patrol, kita lakukan cyber attack, termasuk cyber surveillance. Kita juga men-track melalui dunia maya ini kita lakukan sehingga ini beberapa hasil terakhir banyak kita lakukan dari kegiatan cyber counter terorism itu," kata Tito kepada wartawan di Aula Bimasena, Jalan Dharmawangsa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12/2016).



(erd/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads