DetikNews
Kamis 22 Desember 2016, 11:34 WIB

Sejarawan Soal Hari Ibu: Mengapa Hanya 1 Perempuan di Desain Baru Rupiah?

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Sejarawan Soal Hari Ibu: Mengapa Hanya 1 Perempuan di Desain Baru Rupiah? Desaian rupiah baru (maikel/detikcom)
Jakarta - Menilik sejarahnya, Hari Ibu ditandai dengan digelarnya Kongres Perempuan Indonesia pada 1928. Mereka berkumpul di Yogyakarta untuk memperjuangkan arah politik Indonesia guna mencapai kemerdekaan negara.

Sejarawan Asvi Warman Adam menilai sudah saatnya pemerintah saat ini memberikan porsi yang ideal kepada peran perempuan. Salah satunya dalam pemberian gelar pahlawan nasional.

"Mereka tidak mengerti saja dan tidak peduli dan usulan atau pandangan itu, tidak sampai ke telinga presiden," kata sejarawan Asvi Warman Adam saat berbincang dengan detikcom, Kamis (22/12/2016).

"Tahun ini presiden mengatakan cuma memilih satu pahlawan nasional. Dan satu pahlawan nasional ini kan bisa perempuan, kenapa harus laki-laki?" sambung peneliti LIPI itu.

Dalam catatan Asvi, saat ini ada 169 pahlawan nasional. Dari jumlah itu, baru 12 di antaranya yang perempuan.

"Itu kan berapa persennya coba. Mungkin 8 persenan ya," ujar pria kelahiran 8 Oktober 1954 itu.

Menurut Asvi, hal itu menunjukkan penghargaan negara sangat sedikit terhadap perempuan. Bahkan dari 12 pahlawan nasional dalam desain uang baru Indonesia, hanya satu perempuan yang ditampilkan.

"Padahal kita sudah ada banyak pahlawan perempuan, tetapi kenapa cuma satu yang ditampilkan di uang rupiah baru, yaitu Cut Meutia," ucap Asvi.




(asp/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed