Cerita Bom di Tangsel: Teror Natal, 'Pengantin' Amaliyah hingga Dulmatin

Cerita Bom di Tangsel: Teror Natal, 'Pengantin' Amaliyah hingga Dulmatin

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Kamis, 22 Des 2016 07:02 WIB
Cerita Bom di Tangsel: Teror Natal, Pengantin Amaliyah hingga Dulmatin
Foto: Ahmad Bil Wahid/detikcom
Jakarta - Adam, Omen, Helmi, dan Irwan merancang skenario teror Natal dan tahun baru di sebuah rumah kontrakan di Setu, Tangerang Selatan. Mereka merakit bom aktif dan siap menjadi 'calon pengantin'.

Aksi para terduga teroris ini dibongkar oleh tim Densus 88 Antiteror. Densus kemudian bergerak melakukan penggerebekan di kontrakan yang dihuni Omen, Helmi, dan Irwan, tepatnya di RT 02/01 No 36, Kelurahan Babakan, Setu, Tangerang Selatan, pada Rabu (21/12/2016).

Pada pukul 08.00 WIB, Densus menangkap Adam, yang sedang keluar dari kontrakan dan mengarah ke Jalan Raya Serpong. Selanjutnya pukul 09.45 WIB, Densus menggerebek rumah kontrakan itu. Densus meminta Omen, Helmi, dan Irwan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun peringatan Densus tidak digubris. Omen, Helmi, dan Irwan justru melawan dengan melemparkan bom. Ketiganya akhirnya tewas ditembak Densus.

Usut punya usut, kelompok terduga teroris Tangsel ini diduga berencana melakukan aksi bom bunuh diri pada saat Natal atau tahun baru. Kelompok ini menargetkan pos polisi sebagai lokasi serangan. Mereka juga diduga anak buah Dulmatin.


Berikut ini 8 fakta bom di Tangsel:





Rakit Bom di Kontrakan

Foto: Ahmad Bil Wahid/detikcom
Bom aktif ditemukan di rumah warga di Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan. Polri memastikan bom tersebut ditemukan di rumah terduga teroris.

"Lokasi di rumah terduga (teroris) di Kecamatan Setu, Tangerang," ujar Kabag Mitra Ropenmas Divisi Humas Mabes Polri Kombes Awi Setiyono di kantornya, Jalan Trunojoyo, Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (21/12/2016), pukul 10.55 WIB.

Penemuan bom terjadi pagi tadi. Saat ini lokasi sudah diamankan oleh tim Densus 88 Antiteror.

Lempar Bom, Lalu Didor

Foto: Ahmad Bil Wahid/detikcom
Oman, Helmi, dan Irwan tewas karena melakukan perlawanan kepada Densus.

"Tewas karena mereka menembak duluan," ujar Kabag Mitra Biro Penmas Divhumas Polri Kombes Awi Setiyono saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (21/12/2016).

Sedangkan satu orang terduga teroris berinisial A masih hidup. Keempatnya, menurut Awi, tinggal dalam satu kontrakan yang sama.

"Yang ditangkap pertama adalah A, kemudian dikembangkan karena ada 3 orang lain di kontrakan RT 02 itu," sebut Awi.

Adam Ditangkap, Tiga Teroris Tewas

Foto: Ari Saputra
Satu terduga teroris ditangkap tim Densus 88 Antiteror dalam keadaan hidup, 3 orang lainnya tewas.

"Setelah ditelusuri, pemeriksaan terhadap jenazah dan konfirmasi dari Saudara Adam, kami dapat 3 orang teroris yang ditembak atas nama Omen, Helmi, dan Irwan," kata Kabag Mitra Biro Penmas Divhumas Polri Kombes Awi Setiyono saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (21/12/2016).

Menurut Awi, Helmi merupakan penjual nasi bubur di Tasik. Sedangkan Omen adalah residivis dalam kasus pembunuhan. Dia bisa masuk jaringan ini karena direkrut Ovi, yang tak lain merupakan pelaku bom Kedubes Myanmar pada 2013.

Teror Natal dan Tahun Baru

Foto: Ari Saputra
Kelompok terduga teroris Tangsel diduga berencana melakukan aksi bom bunuh diri pada saat Natal dan tahun baru. Kelompok ini menargetkan pos polisi sebagai lokasi serangan.

"Pengungkapan ini berawal dari keterangan saksi pengembangan saudari Dian pelaku bom panci di Bekasi. Dari keterangan tersebut, ada beberapa nama yang sedang akan melakukan aksinya kira-kira menjelang Natal dan tahun baru, itu keterangan dari Saudara Adam, yang sekarang dilakukan pemeriksaan," ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen (Pol) M Iriawan, kepada wartawan di lokasi penyergapan terduga teroris, Setu, Tangsel, Banten, Rabu (21/12/2016).

Dari lokasi ini ditemukan tiga bom aktif, 2 bom di antaranya sudah diledakkan (disposal), kemudian senjata api, paralon, dan tas ransel berisi peralatan bom.

"Barang bukti di lokasi yang kita lakukan penyitaan ada beberapa bom, senjata api, paralon ada beberapa ransel dengan bom siap meledak. Kita belum bisa masuk TKP karena tim dari jibom sedang melakukan penceraiberaian," sebut Iriawan.

Skenario Kejam Teroris

Foto: Bartanius Dony/detikcom
Bom itu diduga untuk meneror dan melumpuhkan polisi yang akan bertugas di Pos Lantas Eka Hospital, Serpong.

"Bentuknya adalah melakukan penyerangan di pos polisi dengan lebih dulu penusukan kepada anggota," ujar Karo Penmas, Brigjen Rikwanto, saat jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Dia mengatakan, setelah melakukan penusukan, pelaku menunggu warga sekitar untuk mendatangi pos polantas. Setelah warga berkerumun di lokasi, pelaku langsung meledakkan bom tersebut atau melakukan amaliyah.

"Dan setelah berkumpul masyarakat dan anggota lainnya, dia datang bawa bom dan meledakkannya," ucapnya.

'Calon Pengantin' dan Jaringan Bekasi

Foto: Ari Saputra
Omen, Helmi, dan Irwan merupakan orang yang akan melakukan bom bunuh diri.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan dua dari tiga yang tewas tersebut adalah calon pengantin alias orang yang akan melakukan bom bunuh diri.

"Yang meninggal itu, minimal dua (pengantin)," kata Tito kepada wartawan di Babakan, Setu, Tangerang Selatan, Rabu (21/12/2016).

Penemuan bom aktif ini merupakan pengembangan dari penangkapan teroris Tasik dan Bekasi.

"Ini jaringan Bekasi, dari jaringan Tasik yang dikembangkan," ujar Kabag Mitra Biro Penmas Mabes Polri, Kombes Awi Setiyono, saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (21/12/2016).

Bom Handmade dan Low Explosive

Foto: Ari Saputra/detikcom
Bom aktif yang ditemukan di Tangsel merupakan buatan tangan. Bentuknya bom pipa. Ada lima bom yang ditemukan dan terdengar tujuh kali ledakan.

"Total yang ditangkap di wilayah Tangerang Selatan 4, 1 dalam keadaan hidup, 3 meninggal dunia tertembak dengan barang bukti 1 senjata api dan minimal 3 bom pipa," kata Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian di Babakan, Setu, Tangerang Selatan, Rabu (21/12/2016).

Tiga bom pipa di kontrakan RT 02, Setu, Tangerang Selatan, sudah diledakkan (disposal) oleh polisi.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut daya ledak bom tersebut rendah. "Sementara diduga low explosive karena menggunakan potasium nitrat," kata Tito di lokasi pengungkapan teroris di Babakan, Setu, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/12/2016).

Anak Buah Dulmatin

Foto: Galang Aji Putro/detikcom
Beberapa anggota kelompok ini direkrut di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang di Jakarta Timur oleh anak buah Dulmatin.

"Tetap nanti akan terkait, kelompok ini nyambung (dengan jaringan lain) juga dia direkrut di dalam LP Cipinang," kata Tito kepada wartawan di Babakan, Setu, Tangerang Selatan, Rabu (21/12/2016).

Menurut Tito, salah satu terduga teroris yang tewas sekaligus pimpinan kelompok jaringan Tangsel ini, yakni AR, adalah mantan narapidana kasus pembunuhan. Dia ditahan di LP Cipinang.

Di LP Cipinang itulah dia bertemu dengan Abu Haikal, mantan anak buah almarhum Dulmatin. "Salah satu pimpinan kelompok ini alias AR terkait dengan Hasibuan, tersangka penusukan di Medan. Kemudian dia juga terkait dengan salah satu anak buah almarhum Dulmatin, namanya Abu Haikal, yang ditahan di Lapas Cipinang. Ini sebenarnya dia napi kekerasan dulu, bukan teror, tapi direkrut di dalam lapas oleh Abu Haikal," kata Tito.

Kepala Bagian Mitra Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri Kombes Awi Setiyono mengatakan, salah satu terduga teroris yang tewas di Tangsel, yakni Omen, merupakan mantan narapidana kasus pembunuhan.

Omen masuk jaringan teroris setelah direkrut oleh Achmad Taufiq alias Ovi, yang merupakan terduga perencana peledakan kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta pada 2013. "Saudara Omen, mantan napi pembunuhan. Kemudian direkrut Ovi, yang merupakan pelaku bom kedubes Myanmar tahun 2013," kata Awi.
Halaman 2 dari 9
(aan/fdn)


Berita Terkait