Menurut anggota MPR dari Fraksi PKB, Lukman Edy, kegiatan yang menarik untuk mengumpulkan warga adalah pagelaran seni dan budaya. Contohnya di Jawa, ada pagelaran seni wayang kulit dan wayang golek yang menjadi daya tarik warga.
"Nah kalau di Kota Pekanbaru pentas seni apa yang cocok dengan budaya masyarakat Minang, Melayu, dan Batak? Salah satunya yang cocok adalah Kesenian Irama Minang (KIM)," ujar Lukman di Kelurahan Tampan, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (18/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski demikian, oleh Wali Songo beberapa hal yang tak sesuai dengan nilai Islam itu diluruskan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam," jelasnya.
Lukman berharap Kesenian Irama Minang juga digunakan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Sosialisasi Empat Pilar melalui pentas seni dan budaya harus dilanjutkan lebih masif.
"Kita masukan nilai-nilai Empat Pilar," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Idris Laena, menuturkan sosialisasi lewat pentas seni dan budaya bisa dilanjutkan di daerah-daerah lainnya. Menurut Idris, tidak ada ideologi yang bisa menyatukan sebuah bangsa. Contohnya, Uni Soviet yang memiliki ideologi komunis dan dijaga oleh tentara namun negara itu pecah menjadi banyak negara.
Idris juga mencontohkan, Timur Tengah yang memiliki banyak kesamaan dalam budaya, bahasa, bahkan agama selama ini mengalami perpecahan dan konflik. "Dengan demikian ideologi, budaya, bahkan agama tak bisa menyatukan," katanya.
Idris mengatakan yang bisa menyatukan sebuah bangsa adalah perasaan senasib sebagai sebuah bangsa, nasionalisme. Bangsa Indonesia disatukan oleh perasaan senasib yang kemudian dikuatkan dengan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
"Empat hal tersebut selama ini telah kita amalkan," pungkasnya. (mpr/ega)











































