Foto: Muhammad Aminudin/detikcomSarwono memuji program Bank Sampah di SMK Negeri 6. |
"Kota Malang punya semangat dan ini patut ditiru, kami datang untuk melihat dan bagaimana bisanya nanti dilakukan di daerah lain," ujar Ketua Dewan Pengarah Pengendalian Perubahan Iklom tingkat Nasional, Sarwono Kusumaatmadja, di SMK Negeri 6 Kota Malang Jalan Ki Ageng Gribig, Sabtu (17/12/2016).
Sarwono turut memuji program Bank Sampah sudah berjalan di SMK Negeri 6, dimana siswa duduk di kelas 7, sudah bisa membiayai sendiri kebutuhan sekolahnya. "Dari menabung sampah tadi," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sarwono bersama Tim Dewan Pengendali Perubahan Iklim (DPPI) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, turut membawa Raffa Jaffar, pioner sampah elektronik di usianya baru menginjak 13 tahun.
Foto: Muhammad Aminudin/detikcomRaffa Jaffar, bocah pioner sampah elektronik. |
Pelajar SMP di Jakarta ini sudah dua tahun mengkampanyekan soal bahaya sampah elektronik. "Masyarakat kini masih soal sampah organik dan anorganik, padahal sampah elektronik juga berbahaya karena kandungan limbah B3-nya," jelas Raffa terpisah
Untuk saat ini, Raffa sudah menyediakan drop box khusus untuk sampah elektronik di sejumlah tempat di ibukota, dari gerakan dikenal e waste. "Saya dibantu salah satu perusahaan, untuk menampung sampah elektronik yang saya kumpulkan," tegasnya.
Kasek SMK Negeri 6 Kota Malang Dwi Lestari sangat menginginkan e waste dapat berjalan di lembaga pendidikan yang dipimpinnya. "Saya mohon Mas Raffa bisa mengajarkan kepada kami," kata Dwi merespons sosialisasi Raffa. (aan/aan)












































Foto: Muhammad Aminudin/detikcom
Foto: Muhammad Aminudin/detikcom