"Kami ingin Banten lepas dari korupsi, pemimpin yang amanah dan infrastruktur merata. Kami ingin diyakinkan soal visi misi betul-betul dilaksanakan," kata Asep, seorang warga pesisir pantai Binuangeun, Wanasalam, Lebak, Jumat (16/12/2016).
Menanggapi hal itu, Embay bercerita soal perjuangan panjang dirinya bersama para tokoh pendiri Banten menjadi provinsi. Menurutnya, selama perjuangan itu wilayah selatan termasuk yang menjadi basis perjuangan pemekaran, apalagi, akses daerah Banten selatan begitu jauh ke pusat pemerintahan di Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banten teguh dengan RI. Bahkan ketika itu bikin uang Republik Indonesia Daerah Banten. Ini bukti Banten setia kepada Republik Indonesia," kata Embay.
Kemudian, Embay melanjutkan ceritanya tentang pemimpin bangsa ditangkap oleh Belanda dan perjuangan diteruskan oleh Soedirman. Dia menyebut ada seorang warga keturunan Lebak Banten Syafruddin Prawiranegara yang berjuang bahkan memberitahu lewat radio rimba raya kepada dunia bahwa Indonesia masih berdiri tegak.
Menurutnya, salah satu perjuangan Banten menjadi provinsi juga datang dari perjuangan mahasiswa asal Lebak lewat perkumpulan Kumala (Perkumpulan Mahasiwa Lebak). Sebut saja misalnya Uwes Qorni dan Uu Mangkusasmita.
Namun, perjuangan dan nama besar Banten runtuh ke titik nadir paling memalukan setelah 13 tahun menjadi provinsi. Menurut Embay, orang asal Banten dulu selalu dihormati oleh penduduk luar. Apalagi, citra ulama dan sebagai daerah pesantren yang melekat ditambah juga keahlian silatnya.
"Setelah 13 tahun Banten berdiri menjadi provinsi terkorup ketiga di Indonesia. Itu prestasi memalukan," ujar Embay.
Ia juga menambahkan bahwa tidak ada pemimpin kecuali di Banten dengan sebutan Maulana. Kesultanan Banten memberikan gelar pemimpin dengan sebutan Maulana yang artinya seorang ulama sekaligus wali.
"Banten tempat ulama dan pesantren. Artinya, perilaku sebagian orang yang korupsi di Banten ini sudah mencoreng-moreng kehormatan Banten," katanya.
Embay beralasan bahwa dirinya mau diminta menjadi calon wakil gubernur mendampingi Rano Karno karena melihat kesungguhan dan ketulusan Rano. Banten bagian selatan dulu ditempuh dari pusat provinsi selama 9 jam karena infrastruktur yang buruk. Namun, menurutnya, hanya dalam 1 tahun Rano memiliki kewenangan gubernur, daerah seperti Malingping dan akses jalan di selatan dibangun.
"Yang paling harus berterima kasih kepada Rano adalah orang sini. Infrastruktur jalan bagus. Yang tadinya bantuan provinsi untuk Lebak per tahun hanya Rp 10 miliar sekarang menjadi Rp 170 miliar per tahun," ujar Embay.
Embay berjanji, jika dirinya dan Rano Karno diberi kesempatan memimpin Banten, maka bantuan ke kabupaten dan kota akan lebih diperbesar. Apalagi, menurutnya, tekad ia dan pasangannya akan meningkatkan APBD menjadi Rp 20 triliun dalam 5 tahun ke depan. (bri/dhn)










































