Pertamina Ingin BBG Ditetapkan Sebagai Bahan Bakar Utama
Jumat, 08 Apr 2005 14:45 WIB
Jakarta - Pertamina meminta pemerintah menetapkan BBG (bahan bakar gas) sebagai bahan bakar utama. Hal ini karena cadangan gas masih relatif besar. Gas juga lebih ramah lingkungan. Hal ini disampaikan Dirut Pertamina Widya Purnama saat memberikan sambutan dalam MoU tentang penggunaan BBG untuk angkutan umum di Jakarta di Balaikota, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (8/4/2005). "Kami minta izin kepada bapak menteri, kami ingin menjadikan bahan bakar gas sebagai bahan bakar utama. Bukan lagi sebagai bahan bakar alternatif sebagai pengganti BBM untuk kendaraan bermotor," kata Widya. Saat menyampaikan pidato ini, hadir dalam acara itu Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Menurut dia, cadangan gas relatif sangat besar. Selain itu, biaya pengadaan gas masih lebih murah dibanding BBM. Karena itu, bila BBG ditetapkan sebagai bahan bakar utama, maka akan terjadi efisiensi yang besar. Pertamina sejak tahun 1987, kata Widya, sebenarnya sudah membangun 28 unit SPBBG (stasiun pengisian bahan bakar gas) di seluruh Indonesia dengan kapasitas 403.000 liter per hari. Namun, dari 28 unit itu, sampai saat ini yang masih beroperasi tinggal 11 SPBBG. "Hal ini disebabkan oleh berkurangnya konsumen BBG dan tingginya beban pengoperasian SPBBG, terutama tarif listrik dan mahalnya sparepart kompresor untuk BBG," ungkapnya. Ke-28 SPBBG itu tersebar di Pelembang 2 unit, Medan 2 unit, Jabodetabek 17 unit, Cirebon 2 unit, Cikampek 1 unit, dan Surabaya 4 unit. Sementara itu, dalam acara yang sama, Gubernur DKI Sutiyoso berharap, penggunaan BBG nanti tidak hanya diterapkan untuk angkutan umum saja. "Sebagai kesepakatan awal, pemprov DKI akan menggunakan BBG untuk busway koriodor II dan III. Diharapkan nanti diikuti oleh para pengguna kendaraan pribadi," harapnya.
(asy/)











































