DetikNews
Kamis 15 Desember 2016, 19:07 WIB

Fahri Hamzah: Harusnya PKS Apresiasi Saya

Aditya Mardiastuti - detikNews
Fahri Hamzah: Harusnya PKS Apresiasi Saya Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta - Anggota Majelis Syuro PKS Tifatul Sembiring menyebut polemik dengan Fahri Hamzah bisa selesai jika Fahri meminta maaf. Namun, Fahri tidak menemukan alasan dia harus minta maaf.

"Minta maafnya apa, materinya apa. Jadi kita dipecat terus minta maaf begitu," kata Fahri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (15/12/2016).

Bukannya dipecat, Fahri mengklaim dirinya patut diapresiasi. Lantaran saat kasus 'papa minta saham' pembelaannya untuk Setya Novanto terbukti benar.

"Sekarang Setya Novanto jadi ketua DPR lagi, enggak salah dia. Justru harusnya saya diapresiasi dong. Ternyata bener Fahri ini, enggak salah dia pandangannya. Harusnya gitu dong," kata dia.

Dia menuntut permintaan maaf atas tuduhan yang diberikan kepadanya. Fahri merasa bukan sebagai pihak yang mengajukan permintaan maaf.

"Harusnya ada permintaan maaf atas tuduhan saya. Kan saya enggak berubah. Saya pernah bahas KPK di fraksi, semua terima, enggak ada bantahan. Jadi orang minta enggak salah terus minta maaf," ujar dia.

Fahri menjelaskan tujuannya mengajukan gugatan yaitu agar pimpinan PKS menjadi lebih bijak dan tidak asal pecat kadernya. Fahri menyebut keputusan partai bisa saja salah. Oleh karena itu dia memperjuangkan haknya menjadi anggota PKS.

"Nafas dari kader itu adalah mereka menginginkan pimpinan PKS terutama yang saya gugat ini bertindak lebih arif, bijaksana dan lebih membaca UU dan konstitusi negara," kata Fahri.

Menurutnya, tidak boleh ada pandangan seolah-olah suatu partai selalu benar. Fahri menyebut partai bisa saja salah.

"Karena itu saya mengajukan ini karena untuk membuktikan di dalam PKS bisa terjadi tindakan yang salah. Saya bukan orang baru di PKS," sambung dia.

Fahri mengaku mengajukan gugatan untuk membenahi PKS. Dia sengaja menggunakan institusi negara supaya partai tahu kesalahannya.

"Saya tahu banyak yang salah, karena itu saya gunakan institusi negara supaya partai kita ini standarnya negara. Supaya orang itu nanti merasa, oh PKS itu hak-hak kita di sana dilindungi, tidak boleh sembarangan, dan itulah yang membuat partai ini menjadi besar," bebernya.

Dia mengkritik pemimpin PKS yang sekarang menganggap pihaknya selalu benar. Hal itu, kata Fahri, berlawanan dengan azaz demokrasi.

"Tapi kalau sekarang pimpinannya sekarang pokoknya kami pasti benar, kader enggak boleh banyak maunya, enggak boleh membangkang, harus taat, itu enggak ada. Itu bukan tradisi di masyarakat demokrasi. Itu salah," tegas dia.


(ams/imk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed