Pengorbanan Jamaluddin, Selamatkan Istri dan 4 Anaknya Meski Kehilangan Kaki

Gempa Aceh

Pengorbanan Jamaluddin, Selamatkan Istri dan 4 Anaknya Meski Kehilangan Kaki

Agus Setyadi - detikNews
Kamis, 15 Des 2016 12:19 WIB
Pengorbanan Jamaluddin, Selamatkan Istri dan 4 Anaknya Meski Kehilangan Kaki
Foto: Jamaluddin dirawat di rumah sakit (Agus Setyadi/detikcom)
Jakarta - Jamaluddin (45) terbaring lemas di ranjang Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh, Aceh. Satu kakinya diamputasi akibat tertimpa reruntuhan tembok rumahnya. Dia menjadi korban saat menyelamatkan istri dan empat anaknya.

Lelaki asal Desa Rawa Sari Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya, Aceh itu sudah empat hari menjalani hidup tanpa satu kaki. Tim dokter tidak dapat lagi menyembuhkan kaki kirinya yang luka parah akibat tertimpa dinding rumah.

Sebelum diboyong ke rumah sakit, Jamaluddin sempat dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Teungku Chik Ditiro, Sigli, Kabupaten Pidie. Tim dokter di sana juga meminta agar kaki kiri Jamaluddin segera diamputasi sebab sudah remuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari hari pertama sudah diminta amputasi, tapi pertama tidak kami izinkan karena kami pikir masih dapat disembuhkan," kisah Muliana (35), istri Jamaluddin saat ditemui detikcom, Kamis (15/12/2016).

Saat gempa berkekuatan 6,5 SR mengguncang Aceh pada Rabu (7/12) lalu, Jamaluddin bersama empat anak dan istrinya masih tertidur. Begitu hentakan bumi pertama, ia membangunkan keluarga agar segera lari ke tempat lapang.

Sang istri dan anak-anak segera lari. Ketika Jamaluddin beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba dinding rumah ambruk. Reruntuhan puing-puing beton menimpa kakinya. Tak lama berselang, datang kerabat dan mengeluarkan Jamaluddin agar segera lari ke tempat lain.

Dengan kondisi kaki berdarah dan luka parah, Jamaluddin dibawa lari ke pinggir bukit. Warga panik. Takut tsunami kembali menerjang. Berselang beberapa jam, luka Jamaluddin dibersihkan oleh saudaranya yang kebetulan bekerja di rumah sakit.

Baru pagi hari Jamaluddin diboyong ke Rumah Sakit Umum Sigli dan dirawat beberapa malam. Karena kondisi tidak kunjung membaik, keluarga berkesimpulan membawa Jamaluddin ke RSUZA. Sampai di rumah sakit provinsi itulah kakinya diamputasi.

"Lain tidak ada luka. Cuma di kaki. Empat anak kami juga tidak kenapa-kenapa," jelas Muliana.

Di RSUZA kini masih ada 26 pasien yang menjalani perawatan. 21 korban berada di lantai dua, tiga di ruang ICU anak dan 2 di ruang ICU dewasa. Mereka rata-rata mengalami masalah pada tulang belakang akibat tertimpa reruntuhan.

Salah satunya adalah Hasan Basri asal Desa Teungoh, Kecamatan Pante Raja, Pidie Jaya. Ia di rawat di sana sejak hari pertama gempa. Istri dan satu anaknya tewas setelah tertimbun puing-puing bangunan. Selama di rumah sakit, Hasan dijaga oleh saudaranya.

"Anak saya satu selamat sekarang di kampung. Istri dan anak meninggal," kata Hasan. (idh/idh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads