Pesawat tanpa awak yang dikembangkan tim Gamaforce ini berhasil menjadi juara umum dalam Kontes Robot Terbang Indonesia (KRT) 2016 yang digelar di Universitas Lampung, 23-26 November 2016.
Kompetisi yang diikuti 73 tim dari 29 perguruan tinggi se-Indonesia, tim Gamaforce berhasil menang di tiga kategori dari empat kategori yang dipertandingkan. Robot Fiachra Aeromapper UGM berhasil meraih juara pertama dari kategori Fixed Wing dan menyabet penghargaan khusus sebagai robot dengan sistem terbaik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kontes tersebut Gamaforce menurunkan empat robotnya yaitu Fiachra Aeromapper, Rasayana Racing Plane, Gadjah Mada Fighting Copter, dan Aksabiantara. Dari keempat robot tersebut, tiga robot berhasil meraih juara dalam tiga kategori berbeda.
Foto: Bagus Kurniawan-detikcom |
Adalah robot Fiachra Aeromapper UGM berhasil meraih juara pertama dari kategori fixed wing dan menyabet penghargaan khusus sebagai robot dengan sistem terbaik.
Berikutnya, robot Rasyana memperoleh juara dua dari kategori racing plane. Selanjutnya, robot Aksa Biantara menyabet juara pertama di kategori technology development.
"Secara prinsip pesawat ini sama seperti pesawat UAV pada umumnya. Robot Fiachra Aeromapper merupakan UAV jenis fixed wing untuk pemantuan dan pemetaan wilayah. Pesawat ini akan terbang secara auto untuk mengambil foto dan video streaming," kata ketua Tim Gamaforce, M. Aldika Biyanto, di sela-sela acara demo pesawat di Lapangan Pancasila, UGM, Jumat (9/12/2016).
Aldika memaparkan pesawat tersebut memiliki berat 4 kg, badan pesawat terbuat dari material fiber composit. Material fiber composit menjadikan pesawat memiliki ketahanan yang lebih kuat dibandingkan dengan pesawat lain berbahan styrofoam. Dua sayap dengan desain aerodinamis dengan lebar bentang sayap (wingspan) 2,45 meter.
"Pesawat ini menggunakan baterai berkapasitas 6.200 mAh yang dapat terbang selama 30 menit," katanya.
Anggota tim Gamaforce, Lazuardi Ichsan menambahkan pesawat monitoring ini merupakan jenis launcher. Pesawat akan dilontarkan dengan launcher sehingga akan terdorong ke atas lalu motor pesawat yang akan bekerja selanjutnya.
Selain stabil kata Lazuardi, pesawat yang dikembangkan ini memiliki ketahanan terbang tinggi, juga memiliki wing loading kecil. Pesawat juga mudah dibongkar pasang, memiliki control permukaan dan struktur sederhana.
"Pesawat ini juga menggunakan fully automated tracker untuk video streaming dan telemetri," ungkap dia.
Foto: Bagus Kurniawan-detikcom |
Sementara pesawat Rasayana Racing Plane merupakan pesawat yang dirancang untuk menyelesaikan misi terbang cepat, aman dan akurat pada jalur misi.
Memiliki spesifikasi berat 1,5 kg dengan panjang pesawat 1,1 meter dan panjang bentang sayap 1,2 meter. Badan pesawat terbuat dari material composite, sedangkan sayap dari foam core composite.
"Dilengkapi dengan baterai Li-Po Bonka 4s 1.200 mAh yang kuat terbang sampai 20 menit," jelas salah satu pengembang Rasayana, Umar Fadhil Ramadhan.
Dalam KRTI 2016 kemarin, pesawat ini mampu menyelesaikan misi terbang sejauh 700 meter dengan catatan waktu 26,16 detik. Selanjutnya kembali ke base secara cepat dan selamat.
Berikutnya adalah pesawat Aksa Biantara merupakan pesawat UAV berbentuk quadcopter yang berhasil dikembangkan oleh Gamaforce secara mandiri. Adapun teknologi yang dikembangkan secara mandiri meliputi flight controller, auto antena tracker, dan ground control station.
Flight controller yang dikembangkan pada wahana quadcopter dengan kemampuan autonomous mode (tanpa kendali) seperti auto take-off, auto landing, waypoint autonomous, serta psition hold.
"Pengembangan flight controller ini adalah versi pertama kami. Ini akan terus dikembangkan hingga mengimbangi flight controller impor yang beredar dipasaran, bahkan dengan kualitas yang lebih baik," kata Fransiskus Anindita Kristiawan, anggota tim pengembang Aksa Biantara.
Sedangkan auto trackler merupakan alat untuk memaksimalkan kinerja antena pengarah untuk memenuhi misi, seperti pemantauan jarak jauh. Ground cntrol station dibuat untuk mengembangkan interface kendali operator secara mandiri.
"Fitur yang telah dikembangkan antara lain map, live streaming video, auto antena tracker system, dan menampilkan data sensor pada wahana," katanya.
Foto: Bagus Kurniawan-detikcom |
Pesawat lainnya yang juga dikembangkan tim Gamaforce adalah Gadjah Mada Fighting Copter (GMFC) . Robot terbang ini dibuat dengan menggunakan sistem vertical take-off landing. Didesain untuk keperluan memadamkan api saat terjadi bencana kebakaran di suatu kawasan.
"Robot quadcopter ini dapat menyusuri wilayah yang terjadi kebakaran secara fully autonomous," jelas Wasis Adi, tim robot GMFC.
GMFC dilengkapi dengan kamera sebagai sensor. Kamera ini yang digunakan untuk mendeteksi letak titik api. Data letak titik api yang ditangkap kamera dikirim ke mini komputer yang dipasang pada wahana quadcopter yang selanjutnya diproses agar wahana dapat berjalan menuju titik api tersebut.
Untuk memadamkan api, GMFC dilengkapi dengan tangki air yang diletakkan di bagian belakang wahana pesawat. Pesawat ini dapat kembali ke titik awal penerbangan secara otomatis jika titik-titik api sudah berhasil dipadamkan.
(bgs/fdn)












































Foto: Bagus Kurniawan-detikcom
Foto: Bagus Kurniawan-detikcom
Foto: Bagus Kurniawan-detikcom