"Setuju banget. Daripada bablas bolos kerja atau sekolah lebih baik diliburkan secara resmi," kata Dwi Darmayanti dari Semarang kepada redaksi detikcom, Jumat (9/12/2016).
Namun sejumlah karyawan juga banyak yang tak setuju dengan pertambahan cuti bersama ini. Soalnya, mereka keberatan bila cuti tahunan sebanyak 12 hari terpotong setengahnya gara-gara cuti bersama menjadi enam hari pada 2017 nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Baca juga: Libur Nasional dan Cuti Bersama 2017 Tambah 3 Hari, Ini Daftar Lengkapnya)
Angela ingin cuti benar-benar sepenuhnya diatur oleh karyawan, bukan ditentukan oleh pemerintah. Ada pula Anggit, seorang PNS di salah satu kementerian di Jakarta. Dia tidak setuju dengan cuti bersama hasil surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri itu. Baginya, tak semua karyawan punya kebutuhan seragam soal hari cuti, dalam hal ini adalah libur di hari raya keagamaan. Pertimbangan jarak dengan kampung halaman juga turut mempengaruhi pertimbangan karyawan untuk bercuti atau tidak.
"Dan sayangnya, cuti bersama itu mengurangi hak cuti tahunan," imbuh Anggit.
Ternyata, banyak yang menyoroti masalah cuti bersama yang memotong cuti tahunan. Pembaca detikcom bernama Mey menyampaikan hal senada. "Sedih juga rasanya jika harus seperti itu. Akan lebih baik dan menyenangkan cuti bersama yang tidak dipotong cuti tahunan," kata Mey.
Usman Gumanti yang mengaku sebagai PNS juga tak suka dengan cuti bersama. Usulannya setiap kali diklat digelar untuk menghapus cuti bersama dinyatakan selalu ditolak. Usulnya tak lain dan tak bukan adalah agar cuti bersama tidak mengurangi hak cuti 12 hari yang dimiliki pegawai.
"Kalau memang pemerintah ingin tegas sebaiknya hapuskan saja cuti bersama, biarkan semua pegawai ambil haknya yaitu cuti tahunan tersebut sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Daripada diberi cuti bersama tapi mengurangi/ menggerogoti jatah cuti tahunan, menurut saya ini bentuk kesalahan yang sudah berlarut tanpa penyelesaian," tutur Usman Gumanti. (dnu/dnu)











































