Santri di Aceh Lompat dari Lantai 2 untuk Selamatkan Diri dari Gempa

Santri di Aceh Lompat dari Lantai 2 untuk Selamatkan Diri dari Gempa

Agus Setyadi - detikNews
Kamis, 08 Des 2016 09:40 WIB
Santri di Aceh Lompat dari Lantai 2 untuk Selamatkan Diri dari Gempa
Foto: Masjid di kompleks Pesantren Mudi Mesra, Samalanga, Bireuen, Aceh (Agus Setyadi/detikcom)
Bireuen - Suasana dalam masjid di kompleks Pesantren Mudi Mesra, Samalanga, Bireuen, Aceh yang awalnya tenang mendadak berubah. Santri berlarian menyelamatkan diri saat gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang. Goyangan bumi itu terjadi beberapa saat sebelum azan salat subuh berkumandang.

Setelah santri berada di halaman masjid, tiba-tiba kubah masjid ambruk dan sebagian puing-puing berserakan di bawah. Suasana makin panik. Beberapa santri yang masih berada di kamarnya di lantai dua ada yang loncat untuk menyelamatkan diri.

"Ada 12 santri yang loncat dari lantai 2 mungkin karena panik dan trauma. Jumlah korban luka-luka yaitu 80 orang santri laki-laki dan 28 santri perempuan," kata Wadir 2 Mudi Mesra Tgk H Sayed Mahyiddin saat ditemui di Pondok Pesantren Mudi Mesra, Kamis (8/12/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rata-rata santri mengalami luka lecet dan terkilir. Ada lima orang patah kaki dan saat ini sudah dalam perawatan di rumah sakit.

Pasca gempa, aktivitas belajar mengajar di sana ditiadakan. Santri dibolehkan pulang ataupun bertahan di pesantren. Mereka saat ini masih banyak yang memilih tidak meninggalkan tempat mengaji.

"Ditiadakan dalam dua hari ini," jelas Mahyiddin.

Di pondok pesantren Mudi, sejumlah bangunan retak dinding dan rusak tiangnya. Selain itu, satu bangunan yang dijadikan kampus Institut Agama Islam Al-Aziziyah rusak parah dan sudah tidak dapat digunakan.

Kondisi Pesantren Mudi Mesra, Samalanga, Bireuen, Aceh pasca gempaFoto: Agus Setyadi-detikcom
Kondisi Pesantren Mudi Mesra, Samalanga, Bireuen, Aceh pasca gempa


Pihak pesantren sudah melapor kerusakan ini ke instansi terkait agar dilakukan evakuasi.

"Kondisi sekarang ini memang tidak bisa kita pakai lagi. Kita menunggu bantuan alat berat untuk evakuasi agar tidak membahayakan karena di belakang banyak rumah warga dan rumah pimpinan," ungkap Mahyiddin. (idh/idh)


Berita Terkait