6 Orang Garuda Dikonfrontasi Jumat, Termasuk Indra Setiawan
Kamis, 07 Apr 2005 12:31 WIB
Jakarta - Eks Dirut Garuda Indonesia Indra Setiawan akan diperiksa Mabes Polri pada Jumat besok (8/4/2005) terkait kasus Munir. Lima eks anak buahnya juga akan diperiksa untuk dikonfrontasi.Demikian disampaikan pengacara salah satu pengacara Garuda, Wirawan Adnan, pada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel. "Yang dijadwalkan unuk diperiksa besok ada 6 orang. Salah satunya Pak Indra Setiawan dan Rohaini Ainil (chief pilot secretary)," terang Wirawan.Hari ini rencananya 4 orang Garuda juga akan diperiksa dengan didampingi Wirawan. Mereka adalah Kapten Carmel, kru di kabin pilot pada penerbangan pesawat yang ditumpangi Munir pada 6 September 2004; Hermawan (Flight Schedule Supervisor); Ramelgia Anwar (Corporate Security Vice President) danEdi Susanto (pilot). Saat ini Edi sedang melakukan penerbangan ke Selandia Baru."Hari ini tidak jadi ada pemeriksaan terhadap Pak Ramelgia dkk," tandas Wirawan. Menurut Wirawan, keempat orang itu akan diperiksa Jumat besok pukul 08.00 WIB. Agenda intinya adalah melakukan konfrontasi dengan Ramelgia Anwar.Menurut Wirawan, pemeriksana ditunda dengan alasan koordinasi di antara para saksi. "Alasan kenapa ditunda hari ini hanya untuk koordinasi supaya besok menjadi lebih baik sehingga masing-masing bisa dikonfrontasi," jelasnya.Penundaan ini juga berdasarkan kesepakatan antara pihak penyidik dengan para saksi. Dengan demikian, total jenderal besok yang diperiksa ada 6 orang. Salah satu saksi dari Garuda lainnya, yaitu Brahmani (pramugari senior), juga batal diperiksa hari ini. "Dia diperiksa Senin depan," kata Wirawan.Seperti diketahui, keterlibatan pejabat tinggi Garuda itu terindikasi dari surat-surat yang dimaksudkan untuk melindungi Pollycarpus, tersangka kasus Munir. Dokumen tugas untuk penerbangan GA 974 pada 6 September itu, misalnya, cukup aneh. Surat bertanggal 4 September 2004 itu ditandatangani Ramelgia Anwar. Padahal, mestinya oleh Direktur Operasional Garuda, Rudi A. Hardono, atasan Polly. Yang mencurigakan, ada surat kedua bertanggal 17 September alias mundur 10 hari dari kematian Munir.Saat ditanya TPF di DPR, Direktur Utama Garuda kala itu, Indra Setiawan, mengatakan bahwa surat 17 September itu hanya untuk laporan. Sementara surat Ramelgia 4 September 2004 dianggap sebagai tindak lanjut surat tugas yang ditandatangani Indra Setiawan kepada Polly pada 11 Agustus 2004 dengan nomor Garuda/B2/2270/04. Bunyinya, "Mengacu pada surat bernomor Garuda/B2/2270/04, maka kami mohonkan pada captain pilot Airbus 330 untuk mengizinkan nama tersebut (baca: Pollycarpus) untuk terbang nonaktif crew pada sektor Jakarta-Singapura-Jakarta pada kesempatan pertama." Namun justru Polly ikut Boeing 747-400 yang grade-nya di atas Airbus 330.
(nrl/)











































