Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, program tersebut berkonsep Bergerak Bersama yaitu membuat warga ikut berpartisipasi membenahi Kota Semarang. Dengan anggaran Rp 200 juta per kampung, maka secara otomatis kampung tersebut akan produktif.
"Sejalan dengan program pemerintah pusat, kami akan buat permukiman kumuh di Kota Semarang yang tercatat 416 hektar menjadi zero, salah satunya dengan kampung tematik," kata Hendrar, Selasa (6/12/2016).
Foto: Angling/detikcom |
Pengembangan kampung tematik, lanjut Hendrar, juga diikuti perbaikan infrastruktur serta drainase termasuk mengajak warga menanam pohon atau tanaman lainnya. Jika lingkungan sudah siap, maka tema kampung akan dikembangkan sehingga bisa juga dijadikan destinasi wisata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini setidaknya sudah ada 32 kelurahan dari 177 kelurahan di Kota Semarang yang menjalankan kampung tematik. Anggaran yang dikeluarkan tahun ini mencapai Rp 6,4 miliar melalui anggaran perubahan. Sedangkan tahun depan akan dianggarkan Rp 16 miliar dari APBD murni untuk 80 kelurahan.
Foto: Angling/detikcom |
Beberapa kampung tematik yang sebenarnya sudah ada sejak lama dan kini dibangkitkan kembali antara lain Kampung Batik di Kelurahan Rejomulyo, Kampung Jajan Pasar di Bangetayu Kulon, dan Kampung Sentra Bandeng di Kelurahan Tambakrejo. Sedangkan tema-tema baru antara lain Kampung Susu Perah di Kelurahan Gedawang, kemudian Kampung Anggrek di Kelurahan Mijen, dan Kampung Mangut di Kelurahan Mangunharjo.
"Jadi bukan hanya menyelesaikan masalah infrastruktur, tetapi juga menyelesaikan masalah ekonomi, dan lebih dari itu yang terpenting adalah mampu menggerakkan masyarakat untuk terlibat aktif," ucap Hendrar.
(alg/nwy)












































Foto: Angling/detikcom
Foto: Angling/detikcom