200-an Mahasiswa Demo RCTI, Dukung Joe Millionaire
Kamis, 07 Apr 2005 10:37 WIB
Jakarta - Anda pernah menonton reality show Joe Millionaire Indonesia yang ditayangkan RCTI tiap Jumat dan Minggu petang? Tontonan itu belakangan mendapatkan kritik gencar. Namun ternyata pencintanya ada juga. Mereka yang cinta Joe, turun jalan untuk menyuarakan aspirasinya.Para pecinta Joe Millionaire ini mengusung nama yang keren, Barisan Mahasiswa Penyelamat Kebebasan Berekspresi. Mereka akan menggelar demonstrasi ke Stasiun TV RCTI di Jl Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (7/4/2005) pukul 11.00 WIB. Kelompok ini dipimpin Musa."Kami menerima masukan dari production house (PH)-nya, ada beberapa keberatan terhadap program ini dengan alasan tidak sesuai kultur Indonesia. Ini jelas tidak ada alasannya, sebab acara itu sudah disesuaikan dengan budaya Indonesia," kata Musa pada detikcom per telepon, pukul 10.00 WIB.Menurut Musa, upaya penghentian tayangan Joe Millionaire sama dengan mengekang kebebasan berekspresi dalam arti seluas-luasnya. "Ini sebuah ancaman bagi proses demokratisasi yang tengah kita upayakan bersama-sama," kata Musa.Menurut Musa, aksi yang dipimpinnya akan diikuti sekitar 200 hingga 250 orang, dari kelompok pemuda dan mahasiswa. Ketika ditanya apakah dia juga sering menonton Joe Millionaire, Musa menjawab ya. Musa menyebut beberapa sisi positif acara itu. "Di situ misalnya ada upaya memperkenalkan budaya Bali-nya....acara itu tidak mengadospi 100% dari Barat, tapi sudah disesuaikan dengan budaya sini. Misalnya tidak ada tinggal bersama serumah...,"tutur Musa.Pemuda yang mengaku lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat Tangerang ini juga menilai, banyak acara dari luar yang lebih berani dibandingkan Joe Millionaire. "Kalau mau fair, banyak tayangan yang lebih berani dari Joe Millionaire," katanya sambil menyebut sejumlah acara TV swasta.Sekadar diketahui, Joe Millionaire diputar di RCTI mulai Jumat (18/3) lalu pukul 18.00 WIB. Tayangan yang mendunia lewat televisi FOX ini sudah menayang di 13 negara. Pihak RCTI menyebut, pihaknya menjadi stasiun pertama di Asia yang mengadopsi dan menayangkannya sesuai dengan muatan lokal Indonesia.Di Indonesia, Joe sang miliader dengan nilai kekayaan yang diwarisinya Rp 50 miliar, plus sejumlah properti dan beberapa perusahaan. Uang itu baru bisa ia nikmati jika ia sudah menemukan sang pendamping hidup. Maka, ratusan perempuan ayu dari berbagai pelosok di Indonesia antre menawarkan diri menjadi kekasih Joe.Sayangnya dari ratusan pelamar hanya 20 perempuan yang lolos seleksi dan hanya satu yang nantinya dipilih menjadi pasangan hidup Joe. Itu berarti satu persatu perempuan itu harus mengikuti babak seleksi dan eliminasi. Muskil jika Joe harus menikahi semuanya. Dalam tahapan inilah mutlak kehadiran personal advisor --dipercayakan kepada model senior Piere Gruno-- yang memegang kunci babak seleksi.Ke 20 perempuan cantik itu diundang ke sebuah mansion di Pulau Dewata, Bali untuk mengikuti babak audisi dan seleksi. Mereka tak sedang berakting, tetapi benar-benar berusaha mendapatkan hati Joe tanpa mengetahui latar belakang Joe yang sebenarnya.Babakan seleksi itu di antaranya dilakukan dengan mengikuti serangkaian kencan luar biasa antara Joe dan para kandidat berlatar pesona Pulau Dewata. Pada setiap episodenya, Joe akan menyingkirkan satu perempuan dalam sebuah ritual khusus. Puncaknya, pada episode terakhir yang berarti pula akhir tayangan, Joe harus memilih satu dari dua kandidat yang tersisa.Tak cuma itu, Joe juga harus membuka rahasianya, bahwa dia bukannya pria bujangan kaya raya seperti yang ditunjukkannya selama ini. Akankah si pemenangnya tetap memilih Joe yang bukan miliader? Benarkah mereka mencintai Joe karena kepribadiaan, atau hartanya?Di Indonesia, Joe diperankan Marlon Gerber, peselancar berdarah campuran Bali-Australia yang tinggal di Bali. Harian terkemuka Kompas pada edisi 27 Maret silam mengecam acara ini dengan tulisan bertajuk "Dagangan Bernama Sayembara Cinta".Kompas menulis, di AS pun, meski Joe memberikan inspirasi untuk program sejenis lainnya, seperti The Bachelorette dengan Trista Rehn sebagai si pencari jodoh, tontonan itu bukan tidak menuai kritik. Berbagai media massa mengomentari tayangan itu sebagai "penipuan, kebohongan, keserakahan, dan kebodohan"."Tayangan itu penuh kebohongan dan tidak jelas apa pesan yang hendak disampaikan," sergah Gadis Arivia, feminis, doktor filsafat, dan pendiri Yayasan Jurnal Perempuan. Ia menegaskan, "Dasar pengujian cinta bukanlah penipuan." Dia juga menyatakan, "Tidak ada pesan positif dari tayangan seperti itu."Sementara, produser Joe hanya menyebut acara itu murni hiburan. "Ini memang sekadar tontonan tentang kencan," ujar HB Naveen, Produser Eksekutif dan salah satu penulis skenarionya.Bagaimana tanggapan Anda? Kirimkan ke redaksi@staff.detik.com.
(nrl/)











































