Dalam konteks dalam negeri, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut kondisi keamanaan relatif stabil.
Hal ini dikatakan JK saat berdialog dengan penasihat utama pimpinan spritual Iran, Ayatollah Mohsen Araki di di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (1/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekhawatiran yang sama juga disampaikan oleh JK. Dia mengungkapkan kesedihannya soal banyaknya masalah yang dihadapi oleh negara-negara Islam saat ini. Dia menekankan upaya kerja sama antara negara Islam untuk segera mengakhiri konflik tersebut.
Dalam dialog itu, JK menyepakati peningkatan kesepahaman antara mashab-mashab khususnya Sunni dan Syiah, untuk segera mengakhiri konflik. Tidak hanya itu, pengertian antar agama juga perlu ditingkatkan untuk menghilangkan kebencian yang semakin meningkat.
"Rasisme di dunia semakin meningkat jadi masyarakat Islam sendiri itu harus berusaha, bekerja keras agar Islam itu betul-betul jadi Islam Rahamatan lil Alamin. Betul-betul yang membawa kedamaian dunia, yang menjadi syiar lah, bukan menjadi masalah," terangnya.
Perbincangan itu juga menyinggung soal kondisi keamanan dalam negeri Indonesia yang disebut oleh JK dalam kondisi relatif stabil. JK mengatakan bentuk toleransi di Indonesia sangatlah baik. Yang terpenting adalah, pengertian antar mashab yang dikembangkan.
Pada kesempatan itu, Araki menyebut Iran mengusulkan kepada JK pembentukan sebuah organisasi atau wadah yang mendekatkan mazhab dan golongan yang berada dalam islam.
Usulan Iran yang kedua adalah pembentukan perguruan tinggi yang mengajarkan berbagai mazhab dan golongan dalam Islam oleh ulama ulama yang terbaik.
"Kami sangat beranggapan jika dua hal tersebut dapat dilaksanakan ini dapat memberi pengaruh yang baik terhadap umat Islam," kata Araki. (fiq/fdn)











































