Massa yang berasal dari berbagai ormas dan pesantren di Solo dan sekitarnya ini berada di bawah koordinasi Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS).
Kapolresta Surakarta Kombes (Pol) Achmad Luthfi mengatakan semula Polresta mengimbau agar massa menyampaikan pendapatnya di Solo saja. Namun, kata dia, mereka tetap ingin berangkat ke Jakarta dan pihaknya tidak bisa menghalangi. Selanjutnya, Polresta Surakarta berkoordinasi dengan DSKS untuk mengetahui berapa jumlah massa yang berangkat guna menjalankan prosedur berupa langkah-langkah kepolisian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hasil pemeriksaan, kata Luthfi, semua kendaraan dinyatakan laik jalan dan tidak ditemukan senjata tajam yang dibawa massa. Namun ada satu pengemudi yang tidak diperbolehkan jalan karena tidak memiliki SIM yang sesuai, sehingga harus diganti oleh pengemudi yang lain.
Foto: Muchus Budi Rahayu/detikcom. Massa dari Solo dipimpin Surowijoyo alias Cak Rowi (bertopi) dan Iim Ba'asyir (berbaju warna putih). |
Sementara itu, pemimpin perjalanan massa aksi dari Solo, Surowijoyo atau akrab dipanggil Cak Rowi, memaparkan bahwa massa yang berangkat dalam koordinasi DSKS berasal dari 32 anggota ormas dan pesantren yang ada di Solo dan sekitarnya. Rencananya, sesampai di Jakarta, mereka akan singgah di Tanah Abang untuk transit dan selanjutnya pukul 06.00 WIB besok akan menuju ke lokasi aksi di Monas.
"Masing-masing peserta membayar Rp 200 ribu untuk biaya sewa bus. Harga sewa bus ini berkisar antara Rp 8 juta hingga Rp 8,5 juta pergi-pulang. Kami juga memberangkatkan 6 mobil ambulans mengawal perjalanan untuk jaga-jaga jika terjadi kedaruratan," ujar Cak Rowi, yang juga merupakan pimpinan Jamaah Anshorusy Syariah (JAS) Solo.
Di antara ribuan orang yang berangkat hari ini dari Solo bersama rombongan bus adalah Ustadz Abdul Rochim atau akrab disapa Iim, putra Abu Bakar Ba'asyir. Saat ditemui di sela-sela persiapan keberangkatan, Iim mengaku gembira melihat semangat massa yang antusias mengikuti aksi damai yang dia prediksi akan lebih besar dari aksi 4 November yang digelar sebelumnya.
"Umat sedemikan banyak ini hanya menuntut tegaknya keadilan terhadap seorang yang menistakan kitab suci. Memang akhirnya sekarang sudah ada penanganan oleh aparat, namun jalannya sangat lambat dan terkesan diulur-ulur. Karenanya, umat terus mendesak agar keadilan ditegakkan secepatnya terhadap siapa pun juga tanpa ada perkecualian," ujarnya.
(mbr/aan)











































Foto: Muchus Budi Rahayu/detikcom.