Sejak unjuk rasa yang berakhir menyedihkan awal November 2016 lalu, tema persatuan bangsa tiba-tiba menyeruak. Mengagetkan banyak pihak. Demo yang awalnya hanya menyoal pernyataan Ahok, kemudian menyodok sendi-sendi kebangsaan.
Presiden pun jadi sibuk melakukan safari "penyelamatan" agar biduk bangsa ini tidak karam. Dengan jurus silaturahmi, aneka demo susulan yang dianggap bisa jadi tunggangan kelompok tertentu, dicoba diredam. Semua anak bangsa kini menanti apa yang akan terjadi pada 2 Desember 2016 di seputaran Monas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: M Aji Surya/detikcomTaman kota yang berwarna, sudut menawan di Korea |
Omongan saya bukanlah sebuah teori. Saya saat ini saya tengah hidup di tengah bangsa yang terbelah dan berperang, Korea! Jangan terbelalak hanya dengan K-Pop yang menggema. Jangan pula hanya terkesima Gangnam style, kimci dan odeng yang mak nyus. Di tengah ingar bingar itu semua, saya jelas mendengar degup jantung ketakutan. Mereka dihantui perang dan terus bermimpi persatuan.
Akibatnya, di kota Nonsan misalnya, harus didirikan sebuah camp untuk menggembleng semua pemuda menjadi tentara dalam rangka wajib militer. Anak-anak muda tersebut terpaksa meninggalkan sekolah dan rumah selama beberapa tahun serta membiarkan orang tuanya menangis merindukannya.
Transportasi metro bawah tanah di Seoul yang begitu mewah, pada galibnya adalah jaringan bunker-bunker tempat sembunyi manakala peperangan antar saudara itu harus pecah. Contingency plan beserta SOP-nya dibuat sedemikian rupa agar banyak rakyat bisa selamat.
Armada perang harus terus mengalami pembaharuan dari menit ke menit dengan biaya yang menyundul langit. Mulai dari senjata jarak pendek, penangkal rudal hingga senjata nuklir. Tidak hanya itu, diplomasi pun nyaris dihabiskan untuk memenangkan persaingan antar bangsa yang terbelah tersebut.
Foto: M Aji Surya/detikcomLapangan golf nan hijau di Korea |
Semua itu memang bukan pilihan, namun keterpaksaan akibat "perpisahan". Sebab bila senjata nuklir Korut lepas, maka rakyat di kota Seoul misalnya, diperkirakan akan mengalami kiamat dalam waktu kisaran 10 menit saja. Kota-kota lain juga pasti kocar-kacir betapapun semua program tanggap darurat dilaksanakan.
Sungguh, Indonesia sebagai masyarakat yang masih utuh bersatu, mimpi buruk menjadi bangsa terbelah harus disingkirkan jauh-jauh. Dengan bersatu pun, peradaban Indonesia masih tertinggal jauh dari banyak negara, bagaimana pula kalau terbelah. Perceraian, apapun alasannya, dimanapun tempatnya, pasti sangat menyakitkan.
*M Aji Surya tinggal di Seoul, Korea Selatan
Halaman 2 dari 2












































Foto: M Aji Surya/detikcom
Foto: M Aji Surya/detikcom