Acara penutupan Tanwir I di Hotel Narita, Tangerang, Banten itu diawali dengan sambutan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak. Dia menyampaikan keresahannya dan kebanyakan pemuda muslim lainnya.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!" seru Dahnil membuka pidatonya dan diikuti seluruh peserta Tanwir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belakangan ini ada kekhawatiran saya dan anak muda muslim lainnya, Pak Presiden yang juga orang tua kami, saya sampaikan beberapa hal, pemuda-pemuda Islam belakangan ini ketika bertakbir ada yang menuduh kami radikalis, kalau teriak lantang kita dituduh radikalis, padahal sejatinya teriakkan itulah yang memerdekakan kita," ungkap Dahnil disambut tepuk tangan.
Dahnil menjelaskan, Pemuda Muhammadiyah akan menjaga toleransi dan keberagaman melalui takbir. Dia menganalogikan manusia itu kecil di hadapan Allah, sehingga harus menghargai perbedaan.
Setelah sambutan Dahnil, giliran Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir. Dia sedikit menyinggung soal takbir.
"Bolehlah di kala kita perang, di kala kita merebut kemerdekaan, suara Allahu Akbar menjadi lantang luar biasa. Tapi sekarang bisa dengan lirih, dengan kesungguhan hati untuk melahirkan insan yang mulia," tutur Haedar.
Setelah itu barulah Jokowi menyampaikan sambutannya sekaligus menutup Tanwir. Jokowi menyampaikan tentang keberagaman.
"Yang pertama, saya ingin menyampaikan hal yang berkaitan dengan keberagaman kita. Tapi sebelumnya saya ingin memberikan salam Pemuda Muhammadiyah dahulu, Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!" tutur Jokowi yang dilanjutkan pekikan dan diikuti oleh para peserta Tanwir. (bag/fjp)











































