"Banyak pegunungan tinggi, namun kita bukan paling bahaya di dunia, tapi memang paling bahaya di Indonesia. Fenomena cuaca gampang berubah, tiba-tiba mendung terus tidak," kata pilot Imron Siregar dalam diskusi Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) di Hotel Sari Pan Pacific, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat (30/11/2016).
Menurut Imron, para penerbang harus mengenal kondisi Papua. Jam terbang pilot juga dibutuhkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Take off atau landing kalau hanya mengandalkan GPS masih ada margin errornya. Kabut tebal tiba-tiba bisa berubah dalam itungan detik," sambung Ziva.
Karena kondisi tersebut, banyak terjadi kecelakaan di Papua. Jumlah kecelakaan di Papua lebih tinggi daripada daerah lain di Indonesia.
"Ada kecelakaan pesawat di Indonesia, setengahnya disumbangkan oleh Papua. Kecelakaan penerbangan di Papua dari tahun 2014 dan 2015 meningkat," ujar konsultan penerbangan Gerry Soejatman.
Karena itu, perlu diberlakukan 'aturan' khusus bagi penerbangan di Papua. Salah satunya peraturan tentang Visual Flight Rules (VFR). Dalam VFR, jarak pandang harus 5 kilometer.
"Kondisi di Papua dengan di Alaska mirip. Meskipun di Alaska kondisinya lebih rawan," kata Gerry.
Selain itu perlu pengaturan soal slot time penerbangan di Papua. Kondisi cuaca harus benar-benar diperhatikan.
"Slot control digunakan untuk seluruh bandara termasuk bandara kecil. Di Papua, (penerbangan) itu sangat tergantung oleh cuaca. Pas mau terbang dari bandara kecil ke bandara besar susah dijadwalkan," kata Gerry. (aik/fdn)











































