"Harapan saya ke depan sebagai pimpinan DPR ya harus mencerminkan keteladanan bagi masyarakat. Jangan seperti kemarin-kemarin ada kasus itu yang kurang baik sehingga membuat parlemen terdowngrade," kata Irma saat dihubungi, Rabu (1/12/2016).
Irma mengatakan peristiwa 'papa minta saham' yang sempat dituduhkan kepada Novanto menjadi pelajaran agar jangan diulang kembali. Sehingga, kata dia, institusi parlemen tetap berwibawa dan terhormat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Irma menyebut pergantian kader dalam Alat Kelengkapan Dewan (AKD) merupakan kewenangan partai. Dia kemudian mempertanyakan saat rencana PKS mengganti Fahri Hamzah dari kursi pimpinan DPR yang tidak semulus Golkar.
"Pimpinan-pimpinan DPR itu harusnya jangan memperlihatkan mereka bosnya seluruh anggota DPR mereka hanya koordinator yang memfasilitasi anggota DPR. Kalau mereka bersikap sebagai bos enggak pas. Sehingga ketika PKS mengganti Fahri dengan bu Ledia (Ledia Hanifa) kan aneh itu haknya PKS. Apa bedanya Akom dan SN," katanya.
"Tolong pimpinan-pimpinan DPR perlihatkan jiwa kenegarawanan, perlihatkan sikap bijak jangan selalu bermain politik praktis. Coba politik etis dengan regulasi pertanggungjawaban moral yang baik. Saya yakin ini kawan-kawan PKS keberatan masalahnya harus clear kan ini ditonton jutaan rakyat Indonesia tunjukkan sikap keteladanan," sambungnya
Dia pun berharap seluruh proses penggantian AKD maupun pimpinan berjalan terbuka dan transparan. Soal sikap fraksi NasDem di paripurna dia enggan menjelaskannya lebih lanjut.
"Ketika Golkar, itu haknya Golkar mengganti siapapun jatah di situ. Ini yang jadi masalah ketika Akomnya mundur. Kalau enggak mundur dan dipaksa mungkin kita akan punya sikap sendiri," jelasnya.
"Untuk seorang Akom tanpa kesalahan yang dia lakukan apa saya kira enggak seperti itu. Saya kira pak SN tidak gegabah mengambil tindakan yang represif. Politik itu satu musuh kebanyakan, seribu kawan kurang," tambahnya.
(ams/imk)











































