"Jadi grup ini merencanakan amaliyah di akhir tahun. Barang-barang yang dibeli dari toko kimia di Jalan Pramuka dan memang barang-barangnya, artinya mereka cukup kreatif dengan barang-barang yang bisa dipakai sehari-hari kehidupan rumah tangga dan bahkan ada yang dipakai wanita untuk kutek juga jadi bahan baku," ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2016).
Ada 4 orang jaringan teroris Majalengka yang ditangkap tim Densus 88 Antitteror di sejumlah wilayah. Keempatnya adalah Rio Priatna Wibawa (RPW), Eep Saiful Bahri, Bahrain Agam dan Hendra.
Menurut Boy, perkenalan keempatnya berlangsung melalui akun Facebook. Mereka pertama kali berkumpul pada bulan Juni 2016 lalu.
"Mereka bertemu sebenarnya melalui proses perkenalan secara online, jadi kira-kira dalam Facebook berkomunikasi," sebutnya.
Pada awalnya, Rio cs berniat membuat laboratorium sabu dengan tujuan mendanai aksi teror. Namun di tengah jalan rencana ini berubah. Keempatnya memutuskan untuk membuat laboratorium pembuatan bahan peledak.
"Mereka juga ada niatan berbisnis jual bahan peledak, jual bom. Jadi ini sudah ada indikasi awal, artiya bahwa dengan keberhasilan mereka membuat bom, mereka nanti akan menerima pesanan bom dari kelompok-kelompok mana saja yang membutuhkan," terang Boy.
Selain membeli langsung, bahan baku pembuatan bom juga didapatkan Rio Cs dengan pembelian secara online. Sudah ada rencana teror yang disiapkan dengan melakukan pengamatan di sejumlah lokasi target sasaran.
"Target-target mereka sudah survei termasuk vihara," sebut Boy. (fdn/fjp)











































