Acara Kongres Kehutanan Indonesia VI digelar di Grand Sahid Jaya Hotel, Jakarta, Rabu (30/11/2016). Hadir Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar. JK mengatakan, ketika sudah timbul bencana, baru orang kembali ingat hutan.
"Bulan-bulan ini di mana kita selalu mengingat hutan, akibat banjir di mana-mana. Jadi setiap musibah, baru ingat masalah kita. Begitu pula bulan musim kering baru ingat lagi kenapa hutan kita," ujar JK saat pidato peresmian kongres tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JK mengatakan, dalam kongres ini semua pemangku kebijakan bicara mengenai hutan. Namun, berapa luas asli hutan dan bagaimana mempertahankannya, itu yang harus jadi tujuan utama.
"Apa pun yang kita bicarakan, tujuan akhirnya adalah berapa luas hutan riil kita. Hutan riil itu yang ada pohonnyan karena biasanya isinya hanya ilalang. Berapa jumlah luasan hutan riil yang harus kita punyai di negara yang luas ini, dan bagaimana mempertahankannya," kata JK.
"Secara umum mari kita lihat sejarah hutan kita. Kalau Kongres Masyarakat Hutan dimulai tahun 1955, pada waktu itu penduduk kita 90 juta jiwa, hutan kita kurang lebih 160 juta Ha. Jadi secara iklim hidup masih bahagia. Setelah 61 tahun, penduduk kita 230 juta jiwa," kata JK.
JK mengatakan, ada beberapa faktor penyebab berkurangnya luasan hutan di Indonesia. Pertama, jumlah penduduk yang semakin bertambah.
"Akibat penduduk bertambah butuh rumah, butuh lahan pertanian, butuh makan yang lebih enak. Akibatnya kita transmigrasi besar-besaran, sehingga semua dibuka hutan di daerah-daerah. Itu yang pertama yang menyebabkan berkurangnya (luas hutan). Penduduk ada hubungannya dengan pertanian," jelas JK.
Kedua, akibat bisnis hutan. Dikatakan JK, zaman dulu banyak pengusaha yang berebut untuk menguasai konsesi hutan. "Kadang-kadang banyak pejabat yang punya HGH, tapi dijual juga kepada konglomerat. Akibatnya, banjir, panas di mana-mana. Kenikmatan sesaat. Bisnis hutan," kata JK.
Selain konsesi hutan, lanjut JK, muncul bisnis pertambangan. Di mana untuk usaha ini harus melajukan pembabatan hutan.
"Karena pertambangan ini, ramai orang ingin mendapatkan izin, izin pakai hutan daerah. Kabupaten saja bisa kasih izin," katanya.
"Itulah semua yang habiskan hutan ini. Itulah semua yang efeknya di mana-mana. Banjir. Seperti di Dieng, Jawa Tengah semua bukit-bukitnya ditanami kentang dan lain-lain. Itu karena kita beralih dari makanan tropis ke makanan barat, Eropa. Kentang itu bukan makanan kita, makan kita itu ubi. Semua makanan barat itu ditanam di wilayah dingin. Tanaman musim dingin. Jadi berlebihan ditanamnya. Itu yang terjadi. Kenapa hutan semakin berkurang," imbuh JK. (jor/fdn)











































