Kisah Haru Bocah Bom Samarinda: Nyanyi Lagu Gereja dan Mimpi Jadi Polisi

Kisah Haru Bocah Bom Samarinda: Nyanyi Lagu Gereja dan Mimpi Jadi Polisi

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Selasa, 29 Nov 2016 07:21 WIB
Kisah Haru Bocah Bom Samarinda: Nyanyi Lagu Gereja dan Mimpi Jadi Polisi
Foto: Alvaro Sinaga terbaring di rumah sakit (Istimewa/Youtube)
Jakarta - Trinity Hutahayan (3) dan Alfaro Aurelius Tristan Sinaga (4), bocah korban pelemparan bom di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur, terus berjuang untuk sembuh. Mereka tetap ceria menyanyikan lagu-lagu gereja dan terus merajut mimpi.

Meski sekujur badan dibalut perban, Trinity dan Alfaro tertawa bersama saat menyanyikan lirik demi lirik lagu berjudul 'Kingkong Badannya Besar'. Sambil berbaring di ranjang, Trinity dan Alfaro terus memuji nama Tuhan lewat lagu kesukaannya itu.

Keceriaan dua bocah ini direkam ibunda Alfaro, Novita Sagala, untuk video koleksi pribadinya. "Memang saya yang merekamnya untuk pribadi. Mungkin ada keluarga yang menyebar ke internet. Tapi ya puji Tuhan-lah, banyak yang mendoakan anak-anak kami," kata Novita saat dihubungi detikcom lewat telepon, Senin (28/11/2016). Dia mengambil video itu belum lama ini. Trinity dan Alfaro sudah dua minggu dirawat di rumah sakit. Kondisi mereka terus membaik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ledakan tragis yang menewaskan bocah Intan Olivia (2,5) itu juga tidak mematahkan semangat Trinity dan Alfaro meraih cita-cita. Alfaro bahkan mengungkapkan ingin menjadi polisi kelak besar nanti. "Dia tadinya mau jadi pemadam kebakaran. Koleksi mobil pemadamnya ada banyak. Tapi sejak kejadian itu, dia mau jadi polisi katanya. Mau tangkap-tangkapin orang jahat," kata Novita.

Teror bom di rumah ibadat ini sungguh biadab. Bom itu dilempar Juanda pada Minggu (13/11/2016). Kini, tujuh orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Lima di antaranya jaringan teroris dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).


Berikut 3 kisah haru itu:

Ceria Nyanyikan Lagu 'Kingkong Badannya Besar'

Foto: Alvaro Sinaga terbaring di rumah sakit (Istimewa/Youtube)
Video balita korban pelemparan bom di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur, ini viral di media sosial (medsos). Meski terbaring di rumah sakit dengan badan dan wajah terbalut perban, mereka tetap ceria menyanyikan lagu gereja.

Dilihat detikcom, Senin (28/11/2016), video ini sudah banyak diunggah oleh netizen di medsos, seperti di Facebook dan YouTube. Salah satu yang mengunggah di Facebook adalah netizen bernama Mary Asiba Hutapea.

Pukul 11.24 WIB ini, video yang diunggah Mary itu sudah di-share oleh sebanyak 27 ribu lebih netizen. Video itu juga mendapatkan hampir 7 ribu komentar. Banyak yang mengaku sedih dan terharu. Mereka juga berkirim doa agar anak-anak korban bom molotov ini cepat sembuh.

Dalam video itu, Trinity (3) dan Alvaro (4) tampak terbaring di atas tempat tidur yang berdekatan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, Kalimantan Timur. Mereka meski wajah dan tubuh terbalut perban, keduanya ceria menyanyikan lagu gereja 'Kingkong Badannya Besar'.

Suara seorang ibu terdengar mengajak Trinity dan Alvaro menyanyikan lagu 'Kingkong Badannya Besar'.

Ibu: Ayo Ity (Trinity) dulu, Ity...

Trinity: Kingkong badannya gendut... (tertawa)

Ibu: Aduh kok gendut. Jangan gendut, nang. Coba sekarang, Varo (Alvaro).

Alvaro: Kingkong badannya gendut... (Tertawa bersama Trinity).

Alvaro dan Trinity tertawa geli. Mereka bercanda saat menyanyikan lirik lagu itu. Lirik lagu kingkong badannya besar, mereka ubah menjadi kingkong badannya gendut.

"Aduuuuuh...gendut terus ah. Janganlah gendut terus," kata ibu itu meminta Alvaro dan Trinity menyanyikan lagu tersebut secara benar. Kedua balita itu pun akhirnya menyanyikan lirik lagunya dengan benar.

"Kingkong badannya besar, tapi aneh kakinya pendek. Lebih aneh binatang bebek, lehernya panjang, kakinya pendek. Haleluya Tuhan Mahakuasa. Haleluya Tuhan Mahakuasa...," demikian Alvaro dan Trinity menyanyikan lagu itu bergantian.

Lagu 'Kingkong Badannya Besar' ini memang merupakan lagu favorit Alvaro dan Trinity. Lagu ini juga merupakan lagu favorit Intan Olivia Marbun (Banjarnahor) sahabat kedua balita ini, yang juga menjadi korban ledakan bom molotov tersebut. Sayangnya, balita berusia 2,5 tahun itu sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta karena luka bakar yang sangat parah.

Dikonfirmasi detikcom, suara ibu di dalam video itu ternyata merupakan suara ibunda Alvaro, Novita Sagala. Dia sengaja merekam video Alvaro dan Trinity bernyayi untuk koleksi pribadinya.

"Memang saya yang merekamnya untuk pribadi. Mungkin ada keluarga yang menyebar ke internet. Tapi ya puji Tuhan-lah, banyak yang mendoakan anak-anak kami," kata Novita saat dihubungi detikcom lewat telepon, Senin (28/11/2016). Dia mengambil video itu belum lama ini.

Alvaro Ingin Jadi Polisi Mau Tangkap Orang Jahat

Foto: Alvaro Sinaga memakai kaos turn back crime (Istimewa)
Alfaro Aurelius Tristan Sinaga (4) bercita-cita menjadi polisi jika sudah besar nanti.

Ibunda Alvaro menceritakan ada perubahan yang dialami Alvaro akibat peristiwa serangan bom di depan Gereja Oikumene yang dilakukan teroris Juhanda itu. Cita-cita anaknya yang awalnya ingin menjadi petugas pemadam kebakaran sudah tidak lagi diinginkannya.

"Dia tadinya mau jadi pemadam kebakaran. Koleksi mobil pemadamnya ada banyak. Tapi sejak kejadian itu, dia mau jadi polisi katanya. Mau tangkap-tangkapin orang jahat," kata Novita.

Ditambahkan Novita, dirinya sudah memaafkan teroris Juhanda dan orang-orang lain yang terlibat dalam aksi pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene pada Sabtu (13/11) itu.

"Kalau kami semua sudah memaafkan. Di agama kami sudah diajarkan untuk tidak dendam, kita diajarkan untuk penuh kasih. Dari awal kejadian kita memaafkan. Enggak ada dendam. Kami mendoakan supaya orangnya bertobat," imbuh Novita.

Cukuplah Bocah Intan yang Jadi Korban

Foto: Intan Olivia Marbun (Istimewa)
Diana Susanti boru Sinaga (32) merasa sangat terpukul anaknya Intan Olivia Marbun (Banjarnahor) meninggal dalam aksi pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur. Dia berujar, cukuplah anaknya saja yang menjadi korban.

"Cukup, cukuplah anak saya saja yang jadi korban. Cukuplah putri kami saja," kata Diana lirih saat dihubungi detikcom lewat telepon, Selasa (15/11/2016). Dia dalam perjalanan memakamkan putri tercintanya itu di tempat pemakaman di wilayah Phutak, Loa Duri, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Diana mengatakan, dirinya dan suaminya Anggiat Banjarnahor (33) masih diliputi duka mendalam atas kepergian putri semata wayangnya. Dia tidak bisa bicara banyak dan berharap agar pemerintah mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya dan berharap pelaku teror, Juhanda, dihukum seberat-beratnya.

"Biarkanlah semua umat beragama di Indonesia beribadah dengan tenang, jangan sampai ada lagi teror seperti ini. Cukuplah putriku ini yang jadi korbannya," ujarnya.

Intan meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, Senin (14/11) sekitar pukul 03.45 Wita. Tubuh mungilnya mengalami luka bakar sekitar 78 persen akibat terkena ledakan bom molotov di depan Gereja Oikumene, Jalan Dr Cipto Mangunkusumo No 32, RT 03, Kelurahan Sengkotek, Samarinda, Minggu (13/11) pagi.

Semasa hidup, Intan dikenal keluarga sebagai sosok yang ceria dan aktif. Intan juga pandai bergaul dan dikenal suka bernyanyi.
Halaman 2 dari 4
(aan/bpn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads