Seruan ini disampaikan Anies lewat video yang diunggahnya di berbagai akun media sosialnya seperti dilihat detikcom, Senin (28/11/2016). Anies menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris di kediamannya di wilayah Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Di video berdurasi 4 menit 36 detik itu, Anies dengan tegas menyampaikan pesannya. Dia menilai Aung San Suu Kyi tidak peduli dan mendiamkan penindasan terhadap etnis Rohingya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI ini juga memberi seruan kepada khatib salat Jumat di seluruh dunia agar mengajak umat mendoakan Rohingya.
"Mari berdoa bagi kaum Rohingya. Mari bangkit, kirimkan doa kepada kaum Rohingya. Mohonkan bantuan kepada Allah untuk menguatkan iman mereka. Menguatkan moral mereka, menguatkan semangat mereka dalam melawan kekejaman pembersihan etnis ini," imbuh Anies.
Berikut pernyataan lengkap Anies dalam videonya:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga kedamaian tercurah pada Anda semua. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Belakangan ini kita menyaksikan kembali kekejaman terjadi di tanah Myanmar. Umat muslim Rohingya kembali mengalami diskriminasi, penyiksaan dan penindasan secara brutal. Kekejaman ini tidak masuk di akal dan berada di ambang pembersihan etnis.
Kita tidak boleh membiarkan ini terjadi. Kita tidak boleh membiarkan rezim Myanmar melanjutkan pembersihan etnis ini. Ini sudah berkali-kali terjadi dan kali ini kita harus mengajak semua untuk mengambil tindakan. Kita harus bersatu untuk menghentikan kekejaman ini agar tidak berlanjut.
Tindakan mengerikan ini lebih disayangkan lagi terjadi di saat partai penguasa di Myanmar dipimpin oleh seorang peraih Nobel Perdamaian yaitu Aung San Suu Kyi. Tindakan pendiamannya dan ketidakpeduliannya terhadap pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan pembersihan etnis terhadap kaum Rohingya ini menjadikannya bersalah karena pengabaian.
Maka saya menyerukan kepada Komite Nobel Norwegia untuk mencabut hadiah Nobel Perdamaian yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi. Nobel Perdamaian itu diberikan kepadanya atas perjuangannya untuk demokrasi dan hak asasi manusia. Maka sungguh disayangkan, tidak dapat diterima dan tidak dapat dipahami ketika seorang peraih Nobel Perdamaian hanya berdiri diam, tidak bertindak dan mengabaikan kekejaman ini.
Kami ingin Komite Nobel Norwegia memperhatikan hal ini secara serius dan mengambil tindakan. Dunia sekarang mengamati Anda, di mana posisi Anda pada masalah kekejaman pembersihan etnis ini.
Sebagai umat muslim Indonesia, kami membuka tangan kepada para saudara kami dari Myanmar untuk berlindung di tanah kami. Anda adalah saudara-saudari kami. Kami menyambut Anda. Kami akan menjaga Anda. Namun ini hanya solusi sementara. Akar masalah harus diselesaikan.
Saya juga menyerukan kepada khatib Jumat di seluruh dunia. Mari berdoa bagi kaum Rohingya. Mari bangkit, kirimkan doa kepada kaum Rohingya. Mohonkan bantuan kepada Allah untuk menguatkan iman mereka. Menguatkan moral mereka, menguatkan semangat mereka dalam melawan kekejaman pembersihan etnis ini.
Ingat, kita tidak akan melupakan hal ini. Insya Allah berkat Allah akan selalu tertumpah pada Anda dan kita semua. Insya Allah, semua tindakan baik kita akan dibalas oleh Allah. Apapun yang bisa kita lakukan untuk saudara-saudara Muslim Rohingya.
Semoga kedamaian tercurah kepada Anda semua. Terima kasih. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (hri/hri)











































