"Tadi malam kita juga memberikan arahan kepada kanwil I Pemuda Muhammadiyah, kita berikan pemahaman kepada mereka bahwa banyak masalah kebangsaan yang menjadi urusan kita semua dan mudah-mudahan kita bisa mempertahankan NKRI dengan baik," ujar Suhardi kepada wartawan di sela-sela acara seminar di Double Tree Hotel, Jalan Pegangsaan, Jakarta Pusat, Senin (28/11/2016).
Beberapa waktu lalu Tim Densus 88 Antiteror telah menangkap 9 orang yang diduga terkait aksi terorisme dengan cara menyusup ke dalam pendemo di aksi pada 4 November lalu. Suhardi mengatakan BNPT telah menurunkan petugas serta terus berkoordinasi dengan Mabes Polri untuk menjaga agar situasi tetap kondusif, karena indikasi untuk menyebarkan paham radikalisme sudah terlihat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suhardi mengatakan sejak aksi 4 November lalu BNPT telah mengambil langkah cepat dengan menurunkan petugas ke lapangan, mendata sejumlah daerah potensial terindikasi sebagai kawasan penyerbaran paham radikal, serta memantau pergerakan eks pengikut gerakan ekstremis.
"Kita ikuti gerakannya supaya tidak mengambil momentum ini. Ini sama seperti yang dilaksanakan oleh Mabes Polri juga. Kita sama-sama bekerja sama dan itu ternyata setelah didapatkan itu ada memang ada langkah-langkah mereka, walaupun sifatnya konsolidasi setelah kejadian," jelasnya.
Meski begitu, Suhardi mengimbau agar masyarakat tetap tenang. Dia mempersilakan masyarakat menggunakan hak konstitusi, namun jangan sampai melakukan hal yang negatif.
"Ini kita bangsa yang besar, jangan terganggu, ini maka sekarang tema yang diangkat sosial, bagaimana kerukunan umat beragama kita ini. Kalau kita ingat sejarah lah, jangan cuma memaksakan kehendak untuk itu dengan negara majemuk, bhinneka tunggal ika. Tolong disosialisasikan yang cukup, jangan sampai memperkeruh suasana," tutup Suhardi. (rni/erd)











































