detikNews
Senin 28 November 2016, 14:01 WIB

Ini Penjelasan Dinkes DKI Soal Kabar Vaksin HPV Sebabkan Menopause Dini

Bisma Alief - detikNews
Ini Penjelasan Dinkes DKI Soal Kabar Vaksin HPV Sebabkan Menopause Dini Foto: thinkstock
Jakarta - Kabar yang menyebut vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) pada anak usia Sekolah Dasar dapat menyebabkan menopause dini ramai dibicarakan di media sosial. Hal ini pun mendapat tanggapan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

"Berita-berita di medsos yang sampai sekarang tidak bisa dipertanggungjawabkan alasannya. Kali ini kita mengklarifikasi agar semuanya jelas apa yang dimaksud dengan vaksinasi," kata kepala Dinas Kesehatan DKI Koesmedi Priharto saat menggelar konferensi pers di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (28/11/2016).

Dinas Kesehatan DKI sendiri melakukan program pemberian vaksin HPV kepada anak-anak Sekolah Dasar (SD) di Jakarta. Koesmedi menjelaskan, vaksinasi HPV itu dilakukan sebagai respons pemerintah atas tingginya angka kematian akibat kanker serviks.

"Di Indonesia, dalam 1 jam ada 33 wanita meninggal karena kanker serviks. Jadi karena demikian tingginya kejadian kanker seviks ini, maka pemerintah mengambil keputusan untuk memberikan vaksinasi untuk kanker serviks," ucapnya.

Sementara, Andrijono dari HOGI (Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia) yang hadir dalam konferensi pers tersebut juga memberikan penjelasan tentang dampak dari imunisasi HPV.

"Sampai sekarang belum ada laporan efek samping yang serius. Efek samping yang paling dialami adalah sakit di tempat suntikan saja. Sedangkan badan panas dan lainnya relatif sedikit sekali berbeda dengan vaksin lain," jelasnya.

Dari data Dinkes, pemberian vaksin ke anak usia Sekolah Dasar dilakukan atas dasar riset mengenai perempuan Indonesia yang menikah di usia 15-19 tahun. Ada 47 persen perempuan yang menikah pada umur tersebut berdasarkan statistik tahun 2010.

"Kalau divaksinasi di usia SMA bisa kecolongan kita. Makanya kita ambil yang 10 tahun, hingga ketika lulus SD dia sudah terproteksi," ungkapnya.

Selanjutnya, Jose RL Batubara yang merupakan Satgas Imunisasi Pengurus Pusat IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) juga menepis anggapan pemberian vaksin ini menimbulkan efek POI (Primary Ovarian Insufficiency) atau menopause dini.

"Ada rumor yang mengatakan bahwa berhubungan dengan POI misalnya. Itu tidak terbukti ada hubungannya. Efek samping ringan seperti bengkak, sakit kemudian anaknya nangis, panas itu kita bilang minor," ungkapnya.

Di Indonesia sendiri, vaksinasi atau imunisasi HPV dilakukan kepada siswi kelas 5 dan 6 SD/MI dan sederajat melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Program dengan pembiayaan dari APBN ini baru dilakukan di DKI Jakarta pada Oktober 2016 sebagai lokasi percontohan dan akan terus berlanjut ke daerah lainnya pada tahun selanjutnya.

"Kita memang menargetkan 75.000 murid wanita kelas 5 di Jakarta. Namun target tersebut belum tercapai seluruhnya," jelas Koesmedi Priharto.

Hingga saat ini, murid perempuan kelas 5 SD/sederajat yang telah menerima vaksinasi HPV selama BIAS sampai 25 November 2016 mencapai 63.702 anak dari 2.570 SD/Sederajat di seluruh wilayah DKI Jakarta.


(jor/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed