Pakar Kebijakan Publik Kritisi Perekrutan Buzzer oleh Timses di Pilkada

Pakar Kebijakan Publik Kritisi Perekrutan Buzzer oleh Timses di Pilkada

Ahmad Ziaul Fitrahudin - detikNews
Sabtu, 26 Nov 2016 13:30 WIB
Pakar Kebijakan Publik Kritisi Perekrutan Buzzer oleh Timses di Pilkada
Agus Pambagio. Foto: Ari Saputra
Jakarta - Media sosial sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat saat ini, tak terkecuali terhadap kontestasi pemilu. Pakar kebijakan publik, Agus Pambagio menilai, saat ini diskusi masyarakat sudah beralih di media sosial.

"Timnya harus menyaring medsos, saat ini pemilih bergantung sangat beralih pada medsos," kata Agus Pambagio saat diskusi akhir pekan di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (26/11/2016).
Pakar Kebijakan Publik Kritisi Perekrutan Buzzer oleh Timses di PilkadaFoto: Ahmad Ziaul Fitrahudin/detikcom

Agus menuturkan, saat ini media sosial sangat berperan besar kepada perilaku pemilih. Dia mencontohkan pada pemilu Presiden Amerika yang banyak dipengaruhi media sosial sehingga Trump bisa menang.

"Social media saat ini sangat berperan, di mana? Di Amerika kan dalam beberapa bulan terakhir kan info-info trik dan info-info yang enggak benar. Trump kan justru naik, maka dia menang dari social media. Berarti masyarakat lebih aware dengan seperti ini," jelas Agus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus juga menyindir tim sukses (timses) kandidat kepala daerah yang kerap menggunakan jasa buzzer untuk meningkatkan popularitas di media sosial. Agus meminta pemerintah melakukan pendidikan untuk masyarakat agar masyarakat tidak terbawa.

"Ya kalau buzzer kan dibayar, tentu sudah dibayar untuk meningkatkan suara. Tentu sejak 2014 kan itu menjadi andalan calon," kata Agus

"Iya itu pakai buzzer, sekarang concern-nya boleh saja pakai buzzer, yang penting bagaimana kita mendidik masyarakat. Kalau di Amerika, masyarakatnya sudah jelas mereka melek media. Mereka diatur meski pun diatur oleh swasta yang memang diperintahkan oleh negara. Nah, kalau kita, enggak ada," jelas Agus.

Menurut Agus, Masyarakat Indonesia kini sangat mudah terpengaruh isu. Agus juga meminta masyarakat agar menggunakan sosial media dengan sehat.

"Makanya saya katakan bagaimana pun kita hidup di negara bukan di hutan. Jadi yang baik, ngapain kita menyebarkan yang buruk? Masyarakat kita saat ini sangat mudah percaya dan sangat mudah melupakan, apalagi isu SARA," jelas Agus.

"Jadi setop saja, berhenti, kita bisa tanya. Makanya kita yang harus mulai tidak men-tweet, men-share di medsos hal-hal yang enggak jelas," imbuh Agus. (bag/bag)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads