DetikNews
Jumat 25 November 2016, 03:30 WIB

Jadi Pemimpin, Perempuan Tak Perlu Kurangi Sisi Emosinya

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Jadi Pemimpin, Perempuan Tak Perlu Kurangi Sisi Emosinya Foto: Nograhany Koesumawardani
Jakarta - Perempuan di era milenial ini ternyata masih berkutat dengan 'atap kaca'. Terutama kala jadi pemimpin, cap makhluk emosional itu bisa membuat perempuan dipandang sebelah mata.

Atap kaca alias glass ceiling adalah istilah untuk halangan tak tampak bagi seorang perempuan, seolah tak ada namun nyata. Seperti yang dialami seorang fashion designer, Felicia Budi, ketika mulai memproduksi busana dengan labelnya sendiri beberapa tahun lalu.

"Saya bekerja dengan penenun perempuan di Flores, juga penjahit pria. Saya punya pegawai perempuan dan pria. Awalnya, pegawai pria itu ada resistensi pada saya. Pegawai pria saya, kebanyakan lebih tua," tutur Felicia.

Ujaran itu dilontarkan Felicia dalam Women's Leadership Forum yang digelar Kedubes Inggris bersama jaringan alumni penerima beasiswa British Chevening di Hotel Le Meridien, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (24/11/2016) malam.

"Resisten karena saya dinilai perempuan, masih kecil, kurang ambisius, dan lebih emosional," imbuhnya.

Akhirnya, dia meminta bantuan adiknya yang pria untuk menjembatani komunikasi dengan para pegawai prianya. Dari pengalamannya menjadi perempuan pengusaha, Felicia tahu bahwa beberapa perempuan yang menjadi pemimpin mencoba untuk menyamakan diri dengan pria.

"Dengan cara mengurangi peran sisi emosinya dan menambah sisi logisnya. Padahal itu tidak perlu. Perempuan bisa memimpin karena sisi emosionalnya diperlukan untuk mem-balance yang sifatnya logis. Fashion ini bisa dibilang hasil emosi saya, bukan logisnya," tuturnya.

Sisi emosi yang lebih menonjol pada perempuan, bermanfaat untuk menjembatani konflik. Hal ini dituturkan Kepala Riset Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero dalam forum yang sama.

"Pria itu makhluk biner, ya atau tidak, terima atau kalah. Kalau perempuan itu, menjembatani. Makanya kalau ada perundingan damai, selalu ada perempuannya, karena menjembatani, tidak menang-menangan," jelasnya.

Karena sifatnya yang lebih menonjolkan sisi emosi, dalam dunia Poltak di bidang ekonomi, diakuinya masih banyak hambatan bagi perempuan. Contohnya, perempuan lebih sulit mengakses kredit modal.

"Untuk akses ekonomi, ada riset korelasi dengan faktor testosteronnya. Kenapa? Orang yang punya testosteron berlebih lebih berani ambil risiko. Perempuan cenderung penuh perhitungan. Tapi dorongan ambil risiko juga perlu, nanti tinggal di manajemen risikonya," paparnya.

Poltak yang alumni British Chevening 2004 dari Universitas Bristol ini mencontohkan diskriminasi perempuan di bidang ekonomi lainnya.

"Pekerja truk di Rusia, karena ekonomi melambat, yang di-PHK pertama siapa? Perempuan. Di Afrika, istri menggembala kambing, beternak, mereka yang punya aset. Hasilnya dijual, yang ambil suaminya, uangnya dibawa pergi, tidak balik," jelasnya.

Poltak pun menyitir suatu riset yang dikeluarkan perusahaan konsultan dunia McKinsey di kawasan Asia-Pasifik dan China tentang indeks kesetaraan gender. Negara yang perempuannya paling tinggi berpartisipasi ternyata bisa meningkatkan perekonomian hingga USD 12 triliun per tahun.

Tentang partisipasi perempuan dalam ekonomi dan kebijakan publik, menurut Direktur Eksekutif Women Research Institute Sita Aripurnami, partisipasi perempuan sering hanya sebatas check list daftar hadir saja.

"Dilihat lebih jauh, apakah partisipasi perempuan itu cukup mewakili untuk bersuara? Apakah perempuan sudah mampu mempengaruhi untuk pengambilan keputusan?" jelasnya.

Namun untuk Indonesia, Sita menilai proporsi 30 persen perempuan di legislatif dan eksekutif sudah cukup baik berbicara dan mempengaruhi pengambilan keputusan.
(nwk/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed