Menurut Embay, memilih pemimpin bukan perkara mudah. Saat Nabi Muhammad meninggal saja, proses suksesi pengganti imam Umat Islam sampai berlarut-larut
Oleh sebab itu menurut Embay memilih pemimpin, apalagi untuk Banten, harus seperti memilih imam dalam salat. Posisi imam tidak diperebutkan, tapi diberikan pada seseorang yang memang pantas menjadi pemimpin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan pilih pemimpin yang baca, 'Bapak dua ibu dua (tulis: bapak2 ibu2).' Yang ngomong di TV saja nggak bisa," ujar Embay, Kamis (24/11/2016).
Kedua, seorang pemimpin harus memiliki wawasan dan ilmu yang luas. Dalam salat, seorang imam menurut Embay harus yang memiliki wawasan tentang al Quran yang luas.
Ketiga, menurut Embay, seorang pemimpin harus orang yang paling paham aturan. Baik itu aturan negara maupun agama. Negara Indonesia bukan negara agama tapi berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
Terakhir, yang paling mutlak pemimpin yang harus dipilih adalah yang paling mulia perangai akhlaknya.
"Lancar bicaranya, banyak ilmu dan menguasai aturan ini bisa gugur kalau pemimpinnya munafik," ujar Embay.
Embay menambahkan, pemimpin bukan raja. Tapi ia berdiri sebagi pelayan. Segala yang melekat dari mulai baju sampai tali sepatu menurutnya adalah dari hasil kerja rakyat. Jadi tidak pantas kalau ada pemimpin di Banten yang dilayani bukan melayani.
(bri/dnu)











































