Calon wakil gubernur petahana itu mengatakan seharusnya tak hanya Pasukan Oranye yang berfoto yang perlu ditelusuri akan tetapi juga pihak yang mengajak mereka untuk melakukan foto. Sebab itu, Djarot mengatakan perlu tindakan dari Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) untuk menelusuri kasus tersebut.
"Pasukan Oranye saya baca statement Kadis Kebersihan itu digerakkan tim sukses, ini pentingnya ada Panwas. Kalau temuan ada, ini segera dilanjuti, jangan sampai diskorsing jadi korban, siapa yang mengajak, kan dia korban, ini kan temuan harusnya dipanggil. Sama kayak Pak Wali (Anas Effendi) ketemu saya," kata Djarot di sela blusukan di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Kamis (24/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Plt Gubernur DKI Sumarsono mengatakan Pegawai harian lepas (PHL) atau pasukan oranye Dinas kebersihan DKI Jakarta diskors sampai masa kontraknya habis karena berfoto bersama spanduk Agus Yudhoyono-Sylviana Murni. PHL yang diskors tersebut juga tidak akan diberi gaji.
"Pasukan oranye berkampanye salah satu pasangan calon, itu menunjukkan tidak netral. Terpaksa kami berhentikan sementara atau putus kontrak. Tidak menerima gaji apapun," kata Plt Gubernur DKI Sumarsono saat Apel Gabungan Sapu Bersih Pungutan Liar dan Kesiapsiagaan Bencana di Provinsi DKI Jakarta, di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (24/11).
Sumarsono menyatakan dirinya tidak mempermasalahkan pasangan calon tersebut. Namun dia mempersoalkan keikutsertaan jajarannya pada kampanye pasangan calon.
"Saya tidak mempersoalkan pasangan calonnya. Saya mempersoalkan jajaran staf saya yang kemudian ikut teriak-teriak kampanye di belakang spanduk. Fotonya ada," ucapnya sambil menunjukkan foto yang dimaksud. (nkn/imk)











































