"Dengan tanpa alasan yang spesifik, lalu muncul figur Setnov yang akan menggantikannya, polemik kembali akan terjadi dan memicu kegaduhan. Masalahnya publik masih merekam, proses pengunduran diri Setnov dari jabatan Ketua DPR. Dan setelahnya Setnov kembali mau kembali ke posisi yang dengan kerelaan telah diserahkannya kepada Ade Komaruddin," kata peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus kepada wartawan, Selasa (22/11/2016).
Baca Juga: Fraksi Golkar Kebut Proses Novanto Jadi Ketua DPR Lagi dalam 2 Pekan
Menurut Lucius, alasan kembalinya Novanto jadi Ketua DPR ini tidak jelas. Ketua DPR saat ini, Ade Komarudin juga dianggap tidak bermasalah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: Novanto Diusulkan Jadi Ketua DPR Lagi, Politikus Gerindra: DPR Sudah Adem
Golkar diminta untuk menyelesaikan lebih dahulu masalah secara internal. Persepsi publik soal Novanto juga sebaiknya jadi pertimbangan.
"Kalau melihat penerimaan publik, figur Setnov masih sulit untuk diterima begitu saja untuk kembali mendudukki jabatan ketua DPR, sebaliknya Ade yang diakui sendiri oleh Golkar tak punya masalah mungkin sedikit lebih baik dalam hal penerimaan publik," ujar Lucius.
(imk/erd)










































