Demi Persatuan, Projo Dukung agar Presiden Jokowi dan SBY Bertemu

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 21 Nov 2016 12:34 WIB
Ketua Umum Projo Budi Arie dan Presiden Jokowi (Foto: Dok Projo)
Jakarta - Relawan yang menyebut dirinya sebagai pendukung garis keras Jokowi, yakni Projo, menyatakan mendukung agar terjadi pertemuan antara Presiden Jokowi dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ini perlu dilakukan untuk menjaga persatuan Indonesia.

"Bagi kami dialog dan komunikasi sesama anak bangsa sangat baik dan positif. Kami mendukung setiap upaya yang dilakukan siapapun untuk persatuan nasional dan kemajuan bangsa," kata Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi dalam keterangan persnya, Senin (20/11/2016).

Bagi Projo, silaturahmi yang baik bakal menjadikan suasana politik lebih kondusif. Atmosfer nasional harus tetap terjaga demi kepentingan ekonomi-politik, termasuk hubungannya dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang perlu dihadapi dengan bersatunya semua elemen bangsa.

"Di tengah kondisi bangsa yang sangat dinamis akhir-akhir ini, kita memerlukan dialog konstruktif dan suasana yang kondusif. Tantangan bangsa ini di era MEA memerlukan penyatuan seluruh elemen dan komponen bangsa untuk bersatu, bergerak dan bekerja. Jangan sampai kita dihempas di era kompetisi yang ketat ini hanya karena kita lengah dan tercerai berai," jelas Budi Arie.

Terlebih lagi, Jokowi adalah Presiden untuk semua rakyat Indonesia. Maka akan wajar bila Jokowi merangkul semua elemen, termasuk tokoh-tokoh lintas parpol, termasuk Ketua Umum Partai Demokrat SBY bila nanti silaturahmi terealisasi.

"Kami percaya Presiden Jokowi, Pak SBY, Bu Megawati (Ketum PDIP), Pak Prabowo (Ketum Partai Gerindra), dan banyak tokoh bangsa lainnya sangat merindukan persatuan Indonesia. Kami percaya mereka mencintai Indonesia di atas kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, sesaat, dan jangka pendek," pungkas Budi.

Khusus untuk suasana Pilgub DKI 2017, Projo menilai semua gelaran Pilkada serentak harus menjadi perayaan demokrasi untuk rakyat. Pihak yang kalah di Pilkada juga harus dirangkul untuk bersatu kembali.

"Pilkada termasuk Pilkada DKI bukanlah 'zero sum game', setelah Pilkada usai maka bersatu lagi," kata Budi.

(dnu/erd)