Hal ini mengemuka dalam diskusi "Akankah Gerindra Merapat?" di restoran Fame Food di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (20/11/2011).
"Bisa jadi memasukkan Gerindra ke dalam koalisi, setidaknya ada kemungkinan karena prenyataan-pernyataan dari Pak Prabowo yang menyatakan siap membantu pemerintah di mana pun dan kapan pun," ujar pengamat politik Ray Rangkuti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat politik Arif Sutanto menambahkan, konsolidasi kekuasaan secara internal dianggap belum cukup solid. Arif menyebut ada beberapa penyebab pokok hal itu terjadi. Pertama, menteri anggota kabinet maupun juga parpol anggota koalisi yang memiliki agenda yang berlainan.
Akibatnya kabinet tidak efektif menghasilkan perubahan sosial, sehingga dukungan publik gagal menjadi modal politik. Selanjutnya adalah kultur demokrasi dan supremasi sipil belum sepenuhnya diterima TNI/Polri.
"Jokowi sebaiknya berkonsentrasi meningkatkan kapabilitas kabinet agar pemerintahan efektif. Jika tidak, Jokowi akan tersandera politik transaksional," jelasnya.
Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo menilai kuatnya chemistry antara Jokowi dan Prabowo akan menjadi modal khusus melenggangnya Gerindra menjadi parpol pendukung pemerintah.
"Sebagai sebuah kemungkinan sih ada efektifnya. Chemistry politik dua partai ini cocok-cocok saja," kata Ari.
(tfq/tor)











































