Detikcom Tidak Sekongkol dengan Ditjen Pajak Soal Polling
Selasa, 05 Apr 2005 12:33 WIB
Jakarta - Hasil polling SMS yang njomplang tentang dugaan penilepan uang Rp 40 triliun di Ditjen Pajak sempat membuat para pembaca detikcom curiga. Bahkan, ada yang menuding detikcom melakukan kongkalikong dengan Ditjen Pajak terkait hasil polling itu. Dugaan ini disampaikan oleh pembaca bernama Anton dalam emailnya yang dikirimkan kepada redaksi detikcom, Selasa (5/4/2005). Namun, setelah ada berita mengenai SMS berantai, terutama di kalangan karyawan Ditjen Pajak, agar memilih jawaban 'tidak', maka Anton sudah memahami duduk masalahnya. "Justru yang menarik adalah hasil polling di detik.com. Sebelum menerima kabar bahwa ada SMS yang beredar yang berisi ajakan untuk meng-OK-kan hasil polling tersebut, saya dan beberapa kawan yang sempat membaca berpendapat ada udang di balik batu antara detik.com dengan orang pajak,ya... sejenis simbiosis mutualisme lah........Tetapi kalau memang benar tentang adanya SMS tersebut, ya semakin menguatkan anggapan bahwa sulap-menyulap di Pajak itu bukan sekedar rumor. Tapi tenang saja, hasil polling ini (baik atau buruk) nggak akan berpengaruh kok, cuma sekedar bacaan," tulis Anton.Selain Anton, para pembaca lainnya juga berkomentar tentang hasil polling ini. Misalnya, Budhi Masturi. Dia mengaku kaget dengan hasil polling. Karena itu, dia berharap pembaca detikcom dan masyarakat untuk memilih pilihan polling sesuai hati nurani. "Buat masyarakat seluruh Indonesia, ajak teman, saudara, istri, suami, kakak, nenek, kakak, adik, cucu, bos, anak buah, sopir, karyawan, dan siapa aja dehl!! Mari kita berpartisipasi rame-rame untuk poling ini. Soal pilihan, tentukan sesuai hati nurani. Biar hasilnya lebih mendekati pandangan mayoritas masyarakat Indonesia," tulis Budhi Masturi.Tidak hanya Anton dan Budhi yang kaget dengan hasil polling tersebut. Mungkin pembaca lainnya juga merasakan hal yang sama. Bahkan, kekagetan tentang hasil polling juga disampaikan para tokoh yang bergerak di bidang antikorupsi. Mereka menelepon redaksi detikcom untuk memastikan apakah hasil polling itu benar-benar hasil yang nyata atau rekayasa atau kongkalikong dengan pihak Ditjen Pajak. Mendapat pertanyaan ini, redaksi detikcom jelas membantah habis tudingan-tudingan itu. Selama ini, dalam membuat polling, detikcom sama sekali tidak pernah menggunakan jalan kongkalikong. Semuanya dibiarkan mengalir sesuai faktanya. Akhirnya, beredarlah tentang SMS berantai yang mencatut nama Dirjen Pajak Hadi Purnomo. SMS itu berbunyi 'Buka internet di https://www.detik.com (sebelah kiri bawah) ada polling di detikpolling yg menyatakan aparat pajak diindikasikan teleh menilep dana pajak triliunan rupiah. Jawablah TIDAK dan TIDAK TAHU sebagai bentuk dukungan kita kpd instansi bahwa DPJ tidak sebobrok yg mereka duga. Tolong sebarkan pesan ini kpd rekan-rekan di DPJ seluruh Indonesia. Majulah DPJ...Berbakti Untuk Negeri (Hadi Purnomo).' SMS ini beredar luas sejak Kamis (31/3/2005) sejak polling diposting. SMS ini beredar luas di kalangan karyawan Ditjen Pajak. SMS juga beredar di kalangan lain. Nah, mungkin ada kaitan antara hasil polling dengan SMS berantai ini. Detikcom memang selalu membuat polling. Temanya selalu berganti. Dan akhir-akhir ini, kasus pengemplangan pajak memang sedang menarik perhatian. Apalagi, dana yang ditilep itu dikabarkan mencapai Rp 40 triliun. Karena itulah, masalah ini dijadikan tema polling. Polling ini diposting hanya untuk mengetahui sejauh mana pandangan masyarakat terhadap sesuatu hal. Jelas, hasil polling ini tidak bisa dipakai untuk dasar atau dijadikan data yang berbau ilmiah. Sekali lagi, ini hanya mengetahui pandangan masyarakat saja. Tidak lebih dari itu. Tapi, redaksi telah membuat aturan bahwa polling ini hanya bisa diikuti oleh satu simcard. Bila responden mengisi polling dengan simcard yang sama dalam satu tema, jelas itu tidak akan bisa. Karena itu, bila hasil polling menunjukkan bahwa lebih banyak responden yang menjawab 'tidak', maka faktanya itu memang lebih banyak responden yang memilih opsi itu. Apakah itu terkait dengan SMS berantai atau tidak, juga tidak bisa disimpulkan seperti itu. Karena itu, wajar bila Budhi Masturi mengimbau agar para responden memberikan pilihan sesuai hati nurani.
(asy/)











































